Kategori
Buah Pikir

TRIK MEMBACA BUKU DENGAN CEPAT

Oleh: HM Farid Wajri RM, S.Ag., S.Pd.I

(Guru PAI dan Bahasa Arab SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh)

Membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman.

Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-furuf dengan jelas, mengingat simbol-simbol bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.

Di samping itu agar dapat membaca dengan baik seseorang hendaklah mempunyai tujuan. Sebelum membaca, dia sudah punya need/ kebutuhan informasi yang harus dia isi dengan membaca.

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Selain itu, membaca juga mempunyai tujuan lain, seperti:

1) Kesenangan;

2) Memperbarui pengetahuannya tentang suatu topik;

3) Mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya;

4) Memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis;

5) Mengkonfirmasikan atau menolak prediksi;

6) Menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain; dan

7) Mempelajari tentang struktur teks.

Bisa  membaca dengan baik merupakan karakter dan kebiasaan orang-orang besar. Mereka  dan buku seperti sepasang sejoli. Salah seorang contohnya adalah Bapak Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta yang populer sebagai Bung Hatta, salah seorang Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah 11 tahun belajar di Belanda, dia pulang ke Indonesia dengan membawa 16 peti berisi buku.

Terbalik dengan kondisi Indonesia dewasa ini. Pada  tahun 2012, organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) mengungkapkan bahwa hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca serius. Sejalan dengan ini,  Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Satria Dharma menyatakan, budaya membaca masyarakat Indonesia masih lemah dengan hanya menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur pada tahun 2009.

Tahun 2015, Pengamat Pendidikan, Retno Listyarti membeberkan bahwa Indonesia adalah masuk dalam tragedi Nol Buku yaitu tidak ada satu pun buku yang dibaca oleh anak Indonesia. Anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam 365 hari atau 1 tahun, dengan urutan pertama Finlandia dengan 300 halaman dalam 5 hari dan anak Indonesia 1 halaman dibaca 14 hari.

Membaca berkolerasi dengan kecerdasan, karena aktivitas membaca akan merangsang otak dalam memproses setiap input. Manakala aktivitas otak bekerja secara optimal dalam mengolah, menganalisa, merumuskan, dan membuat ikhtisar setiap data serta informasi, maka akan menghasilkan kecerdasan.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh UNESCO yang dirangkum dalam laporannya tahun 2016, negara Finlandia menduduki peringkat pertama dunia dengan tingkat literasi paling tinggi. Sedangkan Indonesia hanya peringkat 60 dari 61 negara yang disurvey.

Ada hal lain yang perlu dikuatirkan.  Menurut survey yang dilakukan oleh global web index, rata-rata penggunaan social media di Indonesia cukup tinggi. Dalam seharinya, orang mengakses media sosial selama 2 jam 51 menit! Dari sisi jumlah, ada 79 juta user Facebook. Lebih dari 90 % adalah usia produktif, antara 13–40 tahun.

Di era media sosial (medsos), informasi membanjir hingga untuk melek informasi justru sangat mudah. Tetapi, pengetahuan tidak bertambah. Sekadar melek informasi tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah melek  literasi, yaitu: Kemampuan untuk memahami, menganalisa, dan mendekonstruksi informasi.

Dengan adanya internet, termasuk di antaranya social media, proses melek literasi menjadi semakin mudah. Kinerja menyaring dan mengolah informasi sebagian dilakukan oleh teknologi. Kita cenderung hanya menjadi penerima dan pengikut informasi. Akibatnya: 1. Kemampuan menganalisis informasi semakin berkurang berpotensi menjadikan kita tumpul. 2. Kita menjadi malas menganalisa secara mendalam. Efeknya adalah, kita dapat menjadi generasi yang emosional dan gampang dipengaruhi. 3. Kemampuan kita untuk mengiterpretasi teks yang dapat memperkaya pemahaman ketika membaca secara mendalam turun secara drastis.

Sosial media membuat kita cenderung berenang di permukaan. Bukan berenang di permukaan, yang kita butuhkan adalah menyelam di kedalaman. Menyelam di kedalaman itu hanyalah dengan membaca buku. Membaca buku menjadikan kita memahami kehidupan dari ide-ide orang besar. Pernak-pernik kehidupan dapat kita sikapi secara bijak sebab pengalaman yang sama sudah kita baca dari yang telah dituliskan oleh orang-orang besar di buku-buku mereka.

Membaca buku merupakan suatu aktivitas yang kurang menarik bagi sebagian orang. Mengapa banyak orang kurang tertarik membaca? Di antara sebabnya adalah karena belum merasakan apa manfaat dari membaca itu. Karena belum tahu manfaat membaca sehingga banyak orang tidak memprioritaskan.

Selain itu penyebab lain adalah karena kebanyakan orang masih membaca sangat lambat, sehingga untuk menyelesaikan 1 buah buku saja membutuhkan waktu yang sangat lama, bisa berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun atau bahkan buku tersebut tidak pernah selesai dibaca.

Kita harus ubah mindset atau pola pikir dari membaca sangat lambat menjadi membaca cepat. Sejatinya ini keniscayaan. Tidak boleh tidak!

Membaca cepat adalah kecakapan atau kemahiran dalam membaca dan memahami teks bacaan dengan tingkat tinggi. Artinya dalam membaca cepat, seseorang harus membaca dengan mengutamakan kecepatan dan sekaligus mampu memahami teks yang ia baca minimal 70%.

Keuntungan membaca cepat adalah bisa menyelesaikan bahan bacaan jauh lebih cepat dan mendapatkan pemahaman yang baik. Klasifikasi kecepatan membaca itu ialah sebagai berikut: a. Pembaca miskin 0-150 kata permenit (KPM), b. Pembaca rata-rata 150-300 kata permenit (KPM), c. Pembaca bagus 300-500 kata permenit (KPM), d. Pembaca istimewa  500-750 kata permenit (KPM),  dan e. Pembaca luar biasa 750 – 1000/lebih kata permenit (KPM)

Hal-hal berikut harus dihindari untuk bisa membaca lebih cepat dengan pemahaman yang baik. Hal-hal yang harus dihindari itu ialah:

1. Membaca per suku kata.

2. Membaca kata demi kata.

3. Regresi atau membaca ulang informasi yang sama berulang-ulang kali.

4. Konsentrasi yang kurang.

5. Sub vokalisasi, yaitu mengucapkan kata demi kata ketika membaca.

6. Skimming (meloncati kata karena kehabisan waktu untuk membaca).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *