Kategori
Buah Pikir

Tik Tok

Tulisan: Syaikha Naila Aisha

(Siswi SMP Islam Raudhatul Jannah)

Tiktok? Siapa lagi human yang tidak mengetahui aplikasi satu ini. Tiktok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016

oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri. Nah seperti yang kita ketahui, tiktok ini telah merajalela. Bahkan pas saya lihat di playstore, sudah di download oleh 100 juta people di dunia. Tetapi apakah dampak dari bermain tiktok tersebut?

Ya, dampak positifnya untuk sekedar mencari kesenangan dan kegembiraan. Apalagi pas ngumpul-ngumpul bareng keluarga, atau teman. Pasti bakal bikin video untuk dijadikan

kenang-kenangan. Juga untuk mengekspresikan perasaan kita pada saat itu. Apalagi kalau musik nya keren dan mengasyikkan. Namun, menurut saya, itu akan lebih banyak memberikan pengaruh negatif. Terutama pada perempuan, jika pengguna melakukan gerakan yang sangat berlebihan, itu akan mengundang syahwat dan dosa bagi para penonton nya. Kecuali jika video itu hanya disimpan sendiri, tidak untuk di posting ke media sosial. Tiktok juga bisa membuat kecanduan bagi pengguna nya. Terutama yang followers nya itu sudah banyak. Bahkan

saya pernah melihat suatu meme yang berisi sindiran kepada kepala daerah yang bermain aplikasi tersebut. Sindiran itu adalah “kok malah main tiktok pak? Banjir tuh yang diberesin.”

Lalu, saya pernah memposting suatu larangan bermain tiktok.

Kalimat nya begini “Rasa malu adalah suatu benteng yang sangat efektif untuk menghindarkan kita dari segala bentuk perilaku buruk. Tiktok misalnya. Rasulullah Saw bersabda, sesungguhnya perkataan nabi terdahulu yang tidak di ketahui manusia adalah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu. (H.R Bukhari).”

Setelah itu banyak saja yang berkomentar terhadap postingan saya. Seperti “kamu jangan terlalu alim, dan lain sebagainya.” Ini bukan persoalan terlalu alim atau apanya, tetapi

agama sudah melarang melakukan hal seperti itu. Hendaklah menjaga pandangan dan aurat nya. Itu kan sudah diatur oleh agama.

Jadi, sudah seharusnya kita selektif terhadap pengaruh yang masuk. Jika itu akan merusak ibadah kita kepada Allah,mendatangkan lebih banyak mudharat daripada manfaat sebaiknya

jangan dilakukan. Sebaiknya lakukan kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah. Usia bumi sudah semakin tua, dan ada juga yang sudah meramal bumi akan kiamat.

Itu setidaknya menjadi pengingat bagi kita untuk menghindari perbuatan maksiat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *