Kategori
Buah Pikir

Sepotong Pengalaman Manis Tentang Seni Berkomunikasi

Oleh

EMILIA TRIAS ANANDA,S.Pd

Guru Bahasa Inggris SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh

 

Pagi yang cerah. Waktu itu saya sedang sibuk menyiapkan peralatan yang akan di bawa ke sekolah. Tiba-tiba terdengar suara manis dan lembut dari si Bungsu Afwa  yang baru  bangun tidur.

“Ummi cantik!”

Saya tidak yakin dengan apa yang saya  dengar dan balik bertanya.

“Apa nak?”

Sambil mengemut dua jari kanannya Afwa mengulang lagi ucapannya.

“Ummi cantik!”

Masyaallah. Kudekati Afwa  dan  berjongkok di hadapannya sehingga mata kami sejajar.

“Iya Afwa. Terimakasih ya nak. Afwa juga cantik. Alhamdullilah”.

Saya tercenung dan berpikir dari mana Afwa memperoleh kosakata baru nan indah ini. Saya flashback. Biasanya menjelang tidur kami berdua mereview kegiatan Afwa seharian itu. Alhamdulillah diusianya yang hampir genap 2 tahun September tahun ini Afwa sudah lancar berkomunikasi. Afwa akan merespon apa yang  ditanyakan sambil mencolek-colek pipi umminya. Penutup percakapan sebelum baca doa menjelang tidur adalah saya mengucapkan:   “Anak cantik Ummi tidur lagi ya”. Mungkin ini yang terekam dibawah alam sadarnya.

Untuk itu saya teringat firman Allah dalam surat an Nisa  ayat  63

“Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.”

Saya menyadari pekerjaan rumah terbesar bagi saya  adalah menyaring perkataan yang akan disampaikan pada anak-anak di rumah dan anak-anak didik di sekolah. Jangan sampai salah-salah kata. Karena akan membekas di dalam hati dan pikirannya. Afwa kecil merekam dengan baik apa yang saya sampaikan dan mengulang kembali kata-kata itu pada saat yang tidak saya perkirakan sama sekali. Tidak terbayang kalau yang disampaikan kata-kata yang tidak bernas dan berisi.

Memanglah benar jika kita diwajibkan menjaga lisan jangan sampai menyakiti hati orang lain. Allah memberi kelebihan kepada kita sebagai manusia supaya pandai berkomunikasi sebagaimana dijelaskan dalam QS ar-Rahman ayat 4, “Allah mengajarkan manusia pandai berbicara”. Ayat tersebut menyiratkan perintah supaya kita berkomunikasi dengan baik.

Sebagaimana kita ketahui prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam lebih ditekankan  pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika).

Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam merupakan panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain.

Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni (1) Qaulan Karima, (2) Qaulan ma’rufa, (3) Qulan Sadida, (4) Qaulan Baligha, (5) Qaulan Maysura, dan (6) Qaulan Layyina.

  1. Qaulan Karima

Dilihat dari segi bahasa, karima berasal dari kata karuma yakrumu karman karimun yang bermakna mulia. Al-Quran mengingatkan kita untuk menggunakan bahasa yang mulia, yakni perkataan yang memuliakan dan memberi penghormatan kepada orang yang diajak bicara sebagaimana dijelaskan dalam  Quran Surat ke 17  al-Isra` ayat  23

“… janganlah kamu mengatakan ‘ah’ kepada mereka (orang tua), jangan pula kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia!” (QS al-Isra` [17]: 23).

 

  1. Qaulan Ma’rufa

Ma’aruf secara bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Ma’rufa identik dengan kata urf atau budaya. Qaulan ma’rufa berarti perkataan yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Selain itu, qaulan ma’rufa berarti pula perkataan yang pantas dengan latar belakang dan status seseorang. Seorang guru hendaknya berutur kata yang santun karena memang pantasnya begitu.

Dalam al-Quran dijelaskan:

“Dan janganlah kamu menyerahkan harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (anak yatim) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan! berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik!” (QS an-Nisa [4]: 5).

 

  1. Qaulan Sadida

Sadida berarti jelas, jernih, terang. Konteks qaulan sadida dalam Alquran diugkapkan pada pembahasan mengenai wasiat (QS an-Nisa [4]: 9) dan tentang buhtan (tuduhan tanpa bukti) yang dilakukan kaum Nabi Musa kepada Nabi Musa (QS al-Ahzab [33]: 70).

Dari kedua isi ayatnya, qaulan sadida merupakan perkataan yang jelas, tidak meninggalkan keraguan, meyakinkan pendengar, dan perkataan yang benar dan tidak mengada-ada (buhtan: tuduhan tanpa bukti).

  1. Qaulan Baligha

Terhadap kelompok oposisi atau kaum munafiq kita diminta menggunakan bahasa yang komunikatif (qaulan baligha). Baligha itu sendiri berarti sampai. Dalam konteks ayatnya (QS an-Nisa [4]: 63), qaulan baligha dimaknai sebagai perkataan yang sampai dan meninggalkan bekas di dalam jiwa seseorang.

 

Ini merupakan indikasi bahwa dakwah itu mesti diupayakan. Salah satunya adalah dakwah dengan lisan (da’wah billisan). Dan, kemestian dakwah dengan lisan ini tentunya bagi yang mumpuni dan berkapasitas. Kecakapan dakwah yang perlu diasah adalah dalam penyampaian verbal. Maka, kecakapan dalam qaulan baligha merupakan hal yang niscaya bagi seorang da’i atau muballigh.

 

  1. Qaulan Maysura

Maysura artinya mudah. Qaulan maysura berarti perkataan yang mudah. Dalam konteks ayatnya (QS al-Isra` [17]: 28), Imam al-Maraghi mengartikannya sebagai ucapan yang lunak dan baik atau ucapan janji yang tidak mengecewakan. Sedangkan Imam Ibnu Katsir menyebutkan makna qaulan maysura dengan perkataan yang pantas dan ucapan janji yang menyenangkan. Kedua pendapat tersebut identik, yakni ucapan yang keluar dari mulut kita hendaknya menyenangkan orang dan tidak mengecewakannya.

 

  1. Qaulan Layyina

Secara bahasa layyina artinya lemah lembut. Qaulan layyina bisa bermakna sebagai strategi dakwah. Pasalnya, konteks qaulan layyina (QS Thaha [20]: 44) berbicara tentang dialog Nabi Musa dengan Firaun.

 

Sebagai seseorang yang dibesarkan dan disenangkan di istana Firaun, penguasa yang melabeli diri sebagai tuhan, Musa harus berurusan dengan Firau sebagai objek dakwah tauhidnya. Berat rasanya bagi Nabi Musa. Tetapi, ini adalah misi yang diembankan Allah. Maka, Allah menuntun dan memotivasi agar Nabi Musa menggunakan qaulan layyina saat menyampaikan dakwahnya. Ini dimaksudkan agar Firaun menjadi sadar dan takut, meskipun pada kenyataannya Firaun marah besar dan berupaya untuk melenyapkan Nabi Musa dan ajarannya.

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita betapa pentingnya penataan perkataan/qaulan yang lahir dari lisan.Tidak perlu jauh jauh ketika nama saya adalah Nanda kemudian orang memanggil saya dengan Gendut, Saya tidak akan merasa nyaman karena nama saya bukan Gendut dan pada saat ini saya tidak lagi gendut karena gendut adalah masa kecil saya.

Tulisan ini adalah pengingat buat saya pribadi untuk selalu menjaga lisan agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, kata-kata kasar, kata-kata yang menyinggung, kata-kata yang tidak pantas dan kata-kata negative lainnya.

Untuk Afwa Asyahidah terimakasih sayang , ummi belajar banyak dari mu nak.

Cubadak Air, 10 Agustus 2019

 

Referensi : http://menjadihebat.blogspot.com/2013/02/macam-macam-qaulan-dalam-al-quran.html

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *