Kategori
Buah Pikir

Pendidikan dan Profesionalisme Guru

Oleh : Kiki Krisdianti, S. Pd

Guru SD Islam Raudhatul Jannah

 

Pendidikan yang bermutu memiliki kaitan kedepan (Forward linkage) dan kaitan kebelakang (Backward linkage). Forward linkage berupa bahwa pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Backward linkage berupa bahwa pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional, sejahtera dan bermartabat.

Keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak hadirnya sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas, hampir semua bangsa di dunia ini selalu mengembangkan kebijakan yang mendorong keberadaan guru yang berkualitas. Salah satu kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah di banyak negara adalah kebijakan intervensi langsung menuju peningkatan mutu dan memberikan jaminan dan kesejahteraan hidup guru yang memadai. Beberapa negara yang mengembangkan kebijakan ini bisa disebut antara lain Singapore, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Negara-negara tersebut berupaya meningkatkan mutu guru dengan mengembangkan kebijakan yang langsung mempengaruhi mutu dengan melaksanakan sertifikasi guru. Guru yang sudah ada harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat profesi guru.

Pasca disahkannya UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, profesi guru dan dosen kembali menjadi bahan pertimbangan oleh banyak pihak, khususnya bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Salah satu upaya yang dilaksanakan saat ini dalam rangka implementasi Undang-Undang Guru dan Dosen adalah pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan sebagaimana telah diatur dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 18 Tahun 2007.

Banyak kalangan yang pesimis dengan adanya sertifikasi guru dan dosen ini, khususnya bagi mereka yang sampai saat ini belum memiliki kualifikasi akademik ( S1 atau Diploma empat (D4)) namun tak sedikit yang merasa gembira dan berbahagia terutama bagi mereka yang sudah dinyatakan lulus, karena sudah ada jaminan bagi mereka bahwa pemerintah segera akan membayar tunjangan profesi tersebut, sebuah harapan sekaligus tantangan menuju guru profesional. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan untuk menyongsong abad 21, antara lain menata sarana dan prasarana, mengutak-atik kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui peningkatan kualifikasi pendidikan guru, memberikan berbagai diklat atau pelatihan sampai pada meningkatkan tunjangan profesi guru dalam arti meningkatkan kesejahteraan guru.

Pada dasarnya keprofesionalan seorang guru dalam mendidik adalah sesuatu yang sangat penting, agar materi yang disampaikan kepada siswa dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan, yang tentunya juga harus didukung oleh administrasi yang cukup dan lengkap, agar mudah dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa administrasi selalu penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efektif dan efisien serta sempurna.

Profesionalisme sangat penting dalam mencapai tujuan, supaya pendidikan dan pengajaran di sekolah dapat berjalan lancar. Makin tinggi kesadaran setiap anggota pendidik tentang pentingnya profesionalisme dalam melakukan pembinaan terhadap peserta didik, maka makin tinggi pula kemungkinan organisasi itu dapat mencapai tujuan.

 

Prinsip-prinsip pendidikan yang diwariskan oleh Bapak Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional perlu kita pahami secara peka. Prinsip-prinsip itu harus dibudayakan oleh seseorang, terutama yang berprofesi sebagai guru :

  1. Ing Ngarso Sang Tuladha

Artinya, seorang guru harus menjadi contoh yang baik di mana ia berada, baik secara pribadi maupun dalam konteks social.

  1. Ing Madya Mangun Karsa

Dalam hal ini, guru diposisikan sebagai motivator untuk menumbuhkan bakat, minat dan perhatian (interest) siswa.

  1. Tut Wuri Handayani

Guru memiliki kepribadian yang kuat, selalu memantau perkembangan akademis dan psikis siswa.

Tugas yang diemban oleh guru memang sangat berat, namun tugas guru sangat mulia. Untuk itu sudah selayaknya guru memiliki berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugasnya, agar menjadi guru yang profesional. Apalagi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Sebagai seorang guru yang profesional, ada empat kompetensi yang perlu dikuasainya, yaitu :

  1. Kompetensi Paedagogik

Guru yang yang menguasai kompetensi paedagogik dapat dilihat realisasinya dalam kegiatan pembelajaran memahami latar belakang siswa, teori pembelajaran, mampu mengembangkan kurikulum, aktif mengembangkan model pembelajaran, mampu mengembangkan potensi siswa, dan mampu berkomunikasi secara santun dan mendidik, serta mampu menilai siswa.

  1. Kompetensi Kepribadian

Seorang guru berhak menyandang gelar profesional apabila ia telah memahami kompetensi keperibadian yang meliputi tiga aspek penting yakni, bertindak sesuai norma, berperan sebagai model yang stabil dan dewasa, mempunyai etos kerja serta komitmen yang tinggi, bangga sebagai seorang guru.

  1. Kompetensi Sosial

Dalam mengimplementasikan tugas sebagai seorang guru, maka hendaklah inklusif dan objektif serta tidak diskriminatif (membeda-bedakan siswa), berkomunikasi dengan teman sejawat, orang tua, dan masyarakat secara efektif, empatik, santun baik secara lisan maupun secara tulisan.

  1. Kompetensi Profesional

Seorang guru dikatakan profesional apabila struktur, isi, dan standar kompetensi untuk mata pelajaran betul-betul dikuasainya serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif hingga siswa memperoleh hasil belajar optimal dan terciptanya pendidikan yang bermutu dengan memanfaatkan teknologi informasi secara bijak untuk kepentingan pendidikan. Di samping itu juga mampu menanamkan nilai-nilai dasar pendidikan karakter dalam diri peserta didik.

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), “model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran”. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran kooperatif.

Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi nativisme, lingkungan-lingkungan sekitar tidak mempengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik. Pembawaan baik dan buruk ini tidak dapat di ubah dari luar.

Aliran nativisme menyatakan bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang di bawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu lahir itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini di sebut pesimistis pedagogis.

Sementara menurut Aliran Naturalisme yang bermakna alam atau yang di bawa sejak lahir. Aliran ini di pelopori oleh seorang filusuf Prancis JJ. Rousseau(1712-1778). Berbeda dengan nativisme naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang di terimanya atau yang mempengaruhinya. Disisi lain, Rousseau mengajukan “pendidikan alam” artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya, manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang di berikan orang dewasa dapat merusak pembawaan anak yang baik itu, aliran ini juga di sebut negativisme.

Sedangkan aliran empirisme dengan tokoh utama Jhon Locke(1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School of British Empirism (aliran empirisme inggris). Doktrin aliran empirisme yang sangat mashur adalah tabula rasa, sebuah istilah bahasa latin yang berarti buku tulis yang kosong atau lembaran kosong. Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya.

Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan aliran nativisme dan naturalisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali di tentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang di terimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis.

Kaum behaviouris pun sependapat dengan kaum empiris, sebagai contoh di kemukakan di sini kata-kata waston, seorang behaviouris tulen dari Amerika ”berilah saya anak yang baik keadaan badannya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap orang anak, entah yang mana dapat saya jadikan dokter, seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau jika memang di kehendaki menjadi seorang pengemisatau pencuri”.

Teori lain yang merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas adalah aliran konvergensi, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang sama pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang.

Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu: faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan. Inilah yang di sebut teori konvergensi. (convergentie=penyatuan hasil, kerjasama mencapai satu hasil. Konvergeren = menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan).

Dalam hadits Nabi Muhammad SAW, menjelaskan bahwa “semua anak dilahirkan atas kesucian/kebersihan (dari segala dosa/noda) dan pembawaan beragama tauhid,sehingga ia jelas bicaranya.maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anaknya menjadi yahudi atau nasrani atau majusi,” (HR.Abu ya’lah, Altab Rani,dan Al Baihaqi dari Aswad bin Sari’)

 

Hadits di atas menerangkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci atau belum mengetahui apa-apa kecuali bekal potensi dan hereditas yang dibawanya. Sedangkan perkembangan selanjutnya itu akan dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau pendidikan dan orang tua. Di sini sebagai pendidik mempunyai peran atau andil yang sangat penting untuk mengarahkan anak ke jalan yang mereka kehendaki.

 

Firman Allah dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 menyatakan “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Di samping menekankan pada umatnya untuk belajar, Islam juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Islam mewajibkan umatnya untuk belajar dan mengajar, manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik. Banyak ayat al-Quran dan hadits yang menjelaskan hal tersebut, antara lain di dalam surat At-Taubah ayat 122 Allah menjelaskan bahwa “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

 

Sabda Nabi Muhammad Saw :

 

كُوْنُوْا رَبَّانِيِّيْنَ حُلَمَاءَ فُقَهَاءَ عُلَمَاءَ وَيُقَالُ الرَّبَّانِيُّ الَّذِيْ يُرَبِّ النَّاسَ مِنْ صِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ

Artinya : “Jadilah kamu pendidik yang penyantun, ahli fikih dan ahli ilmu, disebut pendidik bila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmunya sedikit-sedikit lama kelamaan banyak” (HR. Bukhari).

 

 

Jadi, untuk menjadi seorang guru professional guna menciptakan peserta didik yang terampil dan pembelajaran yang PAIKEMGEMBROT hendaklah :

  1. Seorang guru yang mengemban tugas sebagai seorang pendidik benar-benar menjalankan tugas pendidikannya itu, jangan hanya sekedar mentransfer ilmu saja apalagi seorang guru sertifikasi yang harus menjadi seorang guru yang professional di bidangnya.
  2. Sebagai seorang tenaga pendidik diharapkan mampu menjadi contoh yang baik bagi peserta didik, mampu menjadi seorang motivator, serta sosok yang memiliki keperibadian yang kuat dalam menanamkan pendidikn karakter baik dihadapan peserta didik maupun juga ditengah-tengan masyarakat
  3. Diharapkan seorang guru yang tampil sebagai panutan bagi peserta didik, hendaklah mampu memiliki beberapa kompetensi, sehingga bisa menjalankan tugas sebagai guru yang professional dalam bidangnya.
  4. Seorang guru yang professional hendaklah bisa mengembangkan dirinya serta menciptakan pembaharuan dalam bidangnya supaya mutu pendidikan semakin tinggi dan mampu menyiapkan peserta didik untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, inovatif dan komunikatif serta sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah dapat dipertanggungjawabkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.

Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo, Tekhnologi Komunikasi dan Informasi Pembelajaran. Bumi Aksara, hal 21

Eggen dan Kauchak dalam Wardhani. 2005. Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Dikti

Panen, Paulina, dkk. 2004. Belajar dan Pembelajaran I. Jakarta: Universitas Terbuka

Thobroni, Muhammad dan Arif Mustafa. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: AR-Ruzz Media

Departemen Pendidikan Nasional (2006) Undang-undang Republik Indonesia, No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Zafri (1999). Metode Penelitian Pendidikan.Padang: FIS UNP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *