Kategori
Buah Pikir

MENGENANG PERANAN TERLUPAKAN BAPAK TEKNOLOGI

Tulisan

 Taufik Hidayatullah Ihsan, SE.I., MM (Direktur BMT Radja Syariah)

 

Beberapa waktu lalu, ada seorang Doktor di Indonesia yang menghalalkan Zina, hal ini membuat se-Indonesia heboh dan menjadi perbincangan dimana-mana. Tapi apakah kita tidak sadar, jikalau ada puluhan bahkan ratusan Doktor yang menghalalkan Riba? tapi kita adem ayem saja menanggapi hal tersebut. Padahal Rasulullah dengan tegas telah mengatakan bahwasanya dosa Riba lebih besar 36 kali lipat dosa Zina.

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi Riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan Zina sebanyak 36 kali” (H.R Ahmad dan Al Baihaqi)

Baik Zina maupun Riba adalah dosa besar, kita selalu berdo’a kepada Allah S.W.T agar terhindar dari perbuatan tersebut. Akan tetapi, Riba menjadi perhatian tersendiri bagi kita bersama, karena dosa yang satu ini seakan-akan dianggap hanyalah dosa kecil. Padahal didalam Al-qur’an maupun Hadist sudah dengan jelas dan tegas dibahas tentang larangan melakukan Riba.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS Ali Imron: 130)

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

“Ada tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “Menyekutukan Allah, Sihir,  Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, Memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari medan peperangan, menuduh berzina bagi wanita yang menjaga kehormatannya”. (HR Bukhari no 2766 dan Muslim no 89)

Menurut Syeihk Muhammad Abduh “Riba adalah penambahan-penambahan yang disyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan

Walau sudah sangat jelas pengertian maupun efek dari Riba itu sendiri akan tetapi seakan-akan terjadi aksi pembiaran, tutup telinga atau kebiasaan yang sudah mendarah daging untuk melakukan perbuatan Riba. Hal ini tidak terlepas karena belum adanya kepercayaan penuh segelintir Umat Islam untuk memakai opsi solusi yang ditawarkan oleh Agamanya sendiri, yakni memakai sistem Syari’ah melalui Lembaga Keuangan Syari’ah. Padahal sistem Syari’ah sudah ada sejak Islam masuk ke Indonesia dan Lembaga Keuangan Syari’ah sendiri juga sudah dicetus sejak tahun 1990.

Berbicara tentang sistem Syari’ah khususnya tentang Lembaga Keuangan Syari’ah, banyak yang belum mengetahui siapa sosok dibalik mulai berkembangnya Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia. Orang tersebut adalah Bapak BJ Habibie mantan Presiden ke Tiga Republik Indonesia yang baru-baru ini telah meninggalkan kita.

Pada awal 1990-an, BJ Habibie memiliki peran penting terkait pendirian Bank Muamalat. Bank Syariah pertama di Indonesia yang didirikan pada 1 November 1991.

Ada campur tangan Pak Habibie dalam proses pendirian Bank Muamalat. Ini berawal ketika Orde Baru, saat itu menteri keuangan JB Sumarlin pada 1988 mengeluarkan Paket Oktober (Pakto 88) yang mendorong berdirinya bank-bank.

Saat itu, umat Islam bertanya soal bunga bank yang bagi sebagian kalangan dianggap haram. Ketua MUI saat itu Hassan Basri pada 1991 membawa masalah ini ke Munas MUI soal wacana bank tanpa bunga. Habibie yang saat itu dekat dengan Soeharto dan menjabat ketua ICMI pertama sejak Desember 1990, punya peran melobi Bapak Presiden Seoharto, hingga akhirnya Soeharto setuju didirikannya Bank Muamalat.

Peranan BJ Habibie di dunia Lembaga Keuangan Syari’ah masih dilanjutkan oleh sang anak, Ilham Habibie. Hal ini dibuktikan dengan Ilham Habibie menjabat sebagai Komisaris Bank Muamalat.

Terimakasih kita ucapkan kepada Bapak BJ Habibie yang telah mencetus lahirnya Lembaga Keuangan Syari’ah di Indonesia. Semoga Amal Ibadah beliau diterima disisi Allah S.W.T dan ditempatkan tempat terbaik. Amin.

Sementara itu, tugas kita bersama adalah melanjutkan perjuangan Bapak BJ Habibie khususnya dalam memberantas Riba. Caranya adalah dengan melakukan transaksi keuangan hanya di Lembaga Keuangan Syari’ah, agar hidup kita bisa menjadi Baroqah. Bukan hanya terlepas dari dosa besar, tapi juga sebagai bukti perjuangan menegakkan Syariat Islam tanpa gentar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *