Kategori
Buah Pikir

Memandang Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) Melalui Kaca Mata Milenial Muslim

Tulisan:

Devis Ade Viyosa (Guru SMA IBS Raudhatul Jannah)

Alam mengajarkan manusia menggunakan akal untuk berfikir agar dapat melangsungkan kehidupannya. Sepanjang sejarah, manusia selalu berpikir menciptakan sesuatu untuk mempermudah dan mempercepat segala bentuk proses aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Buah pikiran dari fenomena alam inilah kemudian yang berwujud dengan nama teknologi. Manusia zaman batu misalnya. Akal dan pikirannya berkembang ketika tidak sengaja menggenggam serpihan batu yang melukai tangannya. Sehingga tangan yang tersayat oleh serpihan batu itu mengeluarkan darah. Kejadian ini membuat dia berpikir kalau batu besar dipecahkan akan menghasilkan serpihan batu yang tajam. Serpihan batu yang tajam ini akan sangat bermanfaat untuk menguliti dan memotong hewan buruannya. Kemudian karena kemajuan berpikir yang terus diasah mulailah mereka menghemat tenaga dan waktu untuk tidak memecahkan batu besar menjadi serpihan batu. Mereka mulai mengenal teknik mengupam (menghaluskan) batu menjadi mengkilap dan tajam sehingga bisa dijadikan alat perburuan. Periode ini dinamakan zaman dimana manusia sudah mengenal teknologi modern yaitu penggunaan batu sebagai instrumen akselerasi dalam kehidupannya sehari-hari.

Dibidang teknologi komunikasi dan informasi. Melihat perkembangan pikiran manusia zaman dulu. Mereka membuat sebuah alat teknologi sebagai simbol kemajuan peradaban. Di awal kehidupan, manusia berinteraksi menggunakan bahasa-bahasa  isyarat yang diringi suara-suara mereka untuk memberikan informasi kepada kelompok. Ketika terjadi salah penafsiran terhadap cara cara mereka memberikan informasi kepada kelompoknya, akal dan fikiran mereka  aktif bekerja menciptakan sesuatu untuk dijadikan alat pemberitahu informasi yang akurat dan penuh  kepastian. Menurut arkeolog nekara adalah alat yang ketika dipukul menghasilkan bunyian pertanda perang sudah dimulai atau pertanda bahwa anggota kelompoknya harus berhati-berhati ada kegaduhan, serta pertanda ada bahaya yang mengancam. Secara tipologi nekara ini berbentuk seperti periuk nasi (dandang) terbalik yang kemudian dikenal sebagai genderang perang. Nekara inilah cikal bakal kentongan yang ada di pos kamling, berkembang menjadi Beduq dizaman Islam.

Menyikapi kekhawatiran sebagian besar dunia pendidikan Islam yang masih diduduki oleh pendidik yang konservatif alias “phobia teknologi,” serta cara berpikirnya masih tradisional yang tidak mau menerima kemajuan teknologi. Tentu perihal ini adalah pertanda awal kemerosotan intelektual yang berujung kepada eksistensi popularitas lembaga pendidikan tersebut dimata masyarakat. Banyak sekolah-sekolah yang tidak memperbolehkan siswanya membawa smartphone ke sekolah. Dapat dipastikan alasan si “phobia teknologi” ini selalu berkutat pada masalah-masalah yang akan terjadi akibat diperbolehkannya siswa membawa smartphone ke sekolah.

Fokus fikirannya konsentrasi dan stagnan terhadap masalah itu. Contohnya saja kalau siswa membawa smartphone kesekolah masalah yang akan terjadi adalah kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin, siswa akan menjadi seseorang individualistis karena ia akan fokus sama smartphonenya masing-masing ketika berkumpul bersama. Nanti bukannya belajar malah membuka situs-situs porno atau main game ketika guru tidak ada. Dan tentunya persoaalan ekonomi adalah masalah yang akan menjadi perdebatan yang memberi harapan kemenangan kepada sang “phobia teknologi ini.

Manusia yang mempunyai pola pikir seperti ini adalah seseorang yang suka bermain aman dalam kehidupan, seseorang yang menganggap permasalahan yang dimunculkan dari teknologi adalah pekerjaan baru yang amat berat baginya. Ketakutan terhadap masalah adalah cara cara orang untuk menghindar dari pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Mereka seperti sekumpulan orang rata-rata yang tidak mau keluar dari zona nyamannya.

Melihat fenomena ini. Kewajiban milenial muslim hadir merubah mindset manusia-manusia yang seperti ini. Cara-cara berfikir seperti ini tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Apalagi untuk lembaga pendidikan Islam. Pada era digital ini milenial muslim cara berpikirnya harus berubah. Bukankah masalah adalah salah satu bentuk seleksi alam yang mengedukasi fikiran manusia? Tanpa masalah kita tidak bisa belajar. Tanpa masalah kita tidak bisa bertumbuh menjadi dewasa. Maka dari itu milenial muslim harus merubah cara berpikirnya bahwa lembaga pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Dunia pendidikan Islam saatnya mengintegrasikan Agama, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin apabila smartphone digunakan sebagai media belajar anak dalam kelas adalah masalah besar. Cara berfikir seperti ini harus cepat disadari menggunakan sinyal 4G. Sebelum adanya Smartphone kesenjangan sosial sangat terlihat jelas dari harga alat tulis, tas dan sepatu mereka yang bervariasi harganya. Teknologi transportasi mereka ke sekolah juga tampak jelas membedakan anak orang kaya dengan orang miskin. Semua itu tidak menjadi persoalan bagi kelangsungan aktivitas pendidikan. Selain itu, rumor dimasyarakat selama ini yang beredar mengatakan bahwa jelas anak orang kaya itu pintar, karena fasilitas pendidikan mereka lengkap.  Judging seperti ini perlu juga untuk dikritisi.

Ternyata yang bagus akhlak dan prestasinya banyak dari kalangan anak biasa-biasa saja bukan anak orang kaya. Seharusnya permasalahan kesenjangan sosial ini bisa kita jadikan motivasi bagi anak-anak yang tidak mampu untuk rajin menabung, agar mereka bisa membeli smartphone untuk akselerasi pendidikannya. Maka dari itu juga dituntut profesionalisme dan subjektivitas sebuah lembaga pendidikan Islam. Lembaga Pendidikan Islam harus balance dalam memandang kesenjangan sosial ini. Kesenjangan sosial ini tidaklah terlalu krusial untuk diperdebatkan bagi kemajuan dunia pendidikan Islam. Karena, semua siswa pada era digital ini rata-rata satu orang memiliki satu smartphone. Hal ini harus disinyalir cepat oleh lembaga pendidikan Islam. Karena, lembaga tidak perlu lagi mengeluarkan uang dengan jumlah besar untuk pengadaan gadget atau smartphone sebagai media pembelajaran dalam kelas.

Lembaga pendidikan Islam yang kompatibel tentu mempunyai konsep mekanisme sekolah berbasis digital yang berkomitmen kuat. Membawa smartphone diatur sesuai dengan managerial waktu yang telah ditentukan penggunaannya. Pengadaan locker pribadi untuk siswa adalah ide solutif untuk penyimpanan smartphone. Semua siswa yang datang kesekolah harus meletakan smartphone-nya di locker masing-masing. Di pintu locker dibuat sebuah tulisan peraturan pemakaian smartphone hanya diperbolehkan ketika jam pelajaran berlangsung. Jika ada yang melanggar ketentuan, tentu menerima konsekuensi yang telah disepakati antara sekolah dengan siswa tersebut.

Peraturan dibuat untuk ditegakan agar menciptakan budaya pendidikan yang profesionalisme dan berintegritas. Dengan lahirnya budaya pendidikan yang mentaati peraturan. Maka, persoalan individualistis dalam diri siswa karena dampak  penggunaan smartphone diwaktu jam Istirahat, yang mana mereka sibuk dengan Smartphone masing-masing, semua itu  sudah tidak berlaku lagi. Berhentinya sifat individualistis seorang siswa itu tergantung lembaga dan manusia yang menjalankannya bisa bersinergi dengan baik. Karena lembaga pendidikan dan manusia merupakan formulasi dua referensi yang menghasilkan kultur pembentuk kepribadian siswa.

Kesadaran mengakui bahwa melarang sebuah pemikiran adalah pekerjaan sia-sia, merupakan kesadaran manusia yang waras. Setiap detik manusia berfikir. Apa yang dipikirkannya biasanya akan selalu ingin diwujudkan melalui tindakan atau action. Kita tidak bisa melarang negara-negara liberal untuk memproduksi video porno. Karena proyek video porno adalah industri sangat menguntungkan bagi mafia sex. Apalagi dunia internet begitu mudah diakses oleh berbagai kalangan. Tentu internet adalah pasar terbaik untuk penjualan proyek biadab itu. Penggunaan Smartphone tentu lebih memberikan ruang VIP bagi pecinta video porno dari pada menggunakan VCD atau proyektor. Sebelum adanya smartphone persoalan ini sudah menjadi kajian eksclusif dikalangan intelektual yang ingin membangun peradaban sesungguhnya. Jika membawa smartphone kesekolah menjadi masalah karena siswa nonton film dewasa dan main game. Tugas kita milenial muslim adalah mengarahkan pikirannya kejalan yang benar dan berusaha memblokir situs-situs panas itu agar tidak bisa dikonsumsi lagi oleh netizen.

Menggunakan smartphone sebagai media belajar dalam kelas akan menghabiskan kuota internet. Harga pendidikan menjadi mahal. Tentu Masalah ini berhubungan dengan ekonomi keluarga. Kembali lagi kita ke pembahasan diatas. Rata-rata satu siswa memiliki satu Smartphone. Mereka mampu membeli kuota internet hanya untuk membikin snap curhat di WA, buka Instagram untuk stalking story line gebetannya, dan nonton prank yang tidak bermutu di Youtube. Kenapa lembaga pendidikan Islam tidak menyalurkan kuota internet mereka itu untuk PBM di dalam kelas. Sedangkan buku paket masing-masing mata pelajaran terbaru sudah memasukan teknologi. Mereka mencantelkan QR Code Generator didalamnya untuk tambahan referensi bacaan kepada siswa. Apabila Barcode itu kita pindai atau scan dengan smartphone, kita akan dibawa rekreasi untuk mengeksplorasi bacaan langsung ke halaman website. Fantasi sistem belajar seperti ini tentu sangat dirindukan milenial.

Milenial muslim saatnya merubah pola pikir untuk kemajuan umat. Cara berfikir phobia teknologi yang selalu berkutat pada masalah-masalah yang akan terjadi terhadap inovasi yang akan diterapkan, harus ditinggalkan karena berdampak kepada degradasi intelektual muslim. Tentunya kita harus memperhatikan niat setiap langkah yang akan kita ambil. Visi dan misi yang kita ciptakan dengan niat yang baik akan memperoleh hasil yang baik. Dalam perjalanan tentu ada rintangan yang akan dilalui. Sama halnya dengan kendaraan roda dua pertama kali diciptakan tidak memliliki lampu, lampu sen kiri-kanan, sepatbor, dan kaca spion. Ketika pengendara punya masalah tidak bisa melanjutkan perjalanan dimalam hari. Maka dipasanglah lampu untuk penerangan. Ketika terjadi kecelakaan, pengendara paling depan ditabrak oleh pengendara dibelakangnya karena pengendara didepan tidak melihat kebelakang dan tidak memberi kode atau isyarat ketika berbelok dipersimpangan, maka kendaraan roda dua itu dipasang lampu sen dan kaca spion. Kemudian, begitu juga halnya dengan sepatbor. Sepatbor lahir karena kendaraan roda dua yang melintasi jalan berlumpur yang memercik pengendara sehingga pakaiannya menjadi kotor.

Andaikan saja visi dan misi perusahaan yang memproduksi sepeda motor berkutat pada masalah dan masalah yang diakibatkan oleh lahirnya sepeda motor itu, sedangkan niatnya adalah menciptakan sepeda motor agar manusia terbantu dalam beraktivitas sehari-hari, tentu sepeda motor itu tidak dapat kita rasakan kegunaannya hari ini dan perusahaan itu tidak jadi berkembang.

Sejarah selalu memberikan ruang bagi pembaca untuk merefleksikan masa lalu. Berkaca kepada lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sekolah ini berdiri pada 15 Januari 1919. Menurut Audrey Kahin, dalam bukunya Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, perguruan Sumatera Thawalib merupakan penerus dari agama tradisional bernama suaru Djembatan Besi. Sekolah itu didirikan oleh Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)-ayahanda dai HAMKA. Zainuddin Labai el-Junisiah, seorang guru berpikiran maju, mengajar di Surau Djembatan Besi pada tahun 1913. Dialah yang mengubah sistem pendidikan Surau itu menjadi Sumatera Thawalib.

Ciri menonjol sekolah ini adalah model sekolahnya yang modernis, menggunakan meja, kelas-kelas, papan tulis dan kurikulum. Serangkaian komponen sistem belajar ini diperkenalkan oleh negara kolonial yang berkuasa di Indonesia pada waktu itu. Instrumen yang terdapat dalam serangkaian komponen ini seperti: penggunaan kelas, papan tulis, kursi dan meja merupakan teknologi yang modern zaman itu. Penggunaan teknologi modern ini yang terintegrasi ilmu pengetahuan dan agama mampu membuat suasana belajar menjadi menarik dan peserta belajar sangat bergairah dalam mengasahkan fikirannya. Tidak bisa kita pungkiri sekolah ini menjadi pusat pendidikan di Sumatera dan mampu menelurkan tokoh sekelas Buya Hamka.

Bagi orang-orang sukses sejarah juga mengambil berperan sebagai alarm-warning terhadap kehancuran. Kita lihat yahoo merupakan satu-satunya searching enggine yang eksis pada tahun 1990-an. Mereka terlalu lama berada di zona zaman, mereka tidak peduli dengan inovasi-inovasi perusahaan-perusahaan serupa yang muncul belakangan, ternyata akhirnya saat ini menyalip pergerakan maupun kinerja mereka. Yahoo kemudian diakuisisi oleh Verizon karena kalah saing. Verizon membeli yahoo seharga US$ 4,8 milyar. Kalau dikonversikan ke rupiah menjadi 60 Triliun. Harga ini turun drastis. Bill Gates pernah menawar yahoo sepuluh kali lipat dari harga yang dibeli Verizon untuk diakuisisi oleh Microsoft pada masa itu. Semua itu tidak ada gunanya lagi. Penyesalan di masa kehancuran merupakan masa dimana manusia telah gagal menggunakan alat untuk berfikir yang diberikan oleh Tuhan.

Upaya konservasi paradigma phobia teknologi bukanlah suatu cagar budaya yang mahal harganya. Paradigma seperti ini tidak boleh kita rawat. Melainkan kita upgrade dengan cara memberikan tempat kepada teknologi dalam proses pembelajaran.

Islam dan Iptek tidak dapat dipisahkan. Science without religion is blank. Maka Agama yang terintegrasi dengan Iptek merupakan perpaduan sempurna yang menjadi sistem kekuatan milenial untuk membangun peradaban Islam yang kompetitif, berintelektual dan berintegritas. Agama dan Iptek adalah benteng pertahanan umat Islam dalam persaingan global. Apabila milenial muslim meninggalkan Iptek sama saja kita sebagai umat Islam memberikan potret ketertinggalan kita kepada dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *