Kategori
Buah Pikir

ISLAM MELIHAT PORNOGRAFI

 

Oleh: Marwit Irianto,S.HI,.MH

(Guru PAI SMP Islam Raudhatul Jannah)

 

 

Hari ini kita tidak bisa memungkiri di era milenial ini peredaran pornografi merambat melalui sosial media sangat cepat dan mudah untuk diakses kapan dan dimana pun berada bahkan telah memasuki dunia pendidikan yang merupakan salah satu komponen bangsa yang sangat urgent.

Menurut mereka, apa yang mereka lakukan merupakan ekpresi dari sebuah seni belaka. Sementara menurut yang lainnya, apa yang dilakukan oleh selebritis dan masyarakat umum yang mengumbar aurat bahkan tidak menutupi auratnya sama sekali adalah salah satu tindakan pornografi, yang jelas-jelas sangat meresahkan masyarakat dan melanggar kode etik moral berbangsa. Jika dilihat dari perspektif Islam, manakah yang benar diantara kedua pendapat tersebut.

Persoalan pornografi adalah persoalan yang tak akan pernah habis untuk dikupas. Selain menarik untuk dibicarakan, persoalan ini juga menuntut kita untuk bekerja keras “berijtihad” mencari pengertian dan batasan yang tepat tentang pornografi. Sejak dahulu, permasalahan ini tak pernah menemukan solusinya. Meskipun, berbagai kalangan, seperti Majelis Ulama Indonesia(MUI) atau Draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pornografi dan pornoaksi, telah memberikan fatwa tentang pornografi, hal itu tetap saja dianggap pihak lain sebagai “cetusan hukum” yang tidak jelas. Jika persoalannya, karena fatwa itu telah merugikan pihak lain, maka hingga kapanpun segala keputusan hukum pasti ada pihak yang dirugikan.

Persoalannya: bisakah kita bertindak atau beraksi tanpa harus membuat orang lain menganggapnya sebagai hal yang kontroversial? Tentu saja, ini syarat yang sangat mahal, sebab kita hidup selalu saja dibangun oleh rasa ingin tahu yang tinggi atau ingin selalu trial and error (coba-coba). Jika kenyataan demikian, maka dalam kasus pornografi artis maupun masyarat, alangkah etisnya bila kita melihatnya dari sudut budaya ketimuran atau budaya Islam, bukan budaya Barat atau budaya seniman, meskipun objek yang kita permasalahkan sekalipun adalah sebuah karya seni.

Pada dasarnya, pornografi berasal dari kata parnos, yang berarti cabul, kotor, jorok; dan graphien, yang berarti tulisan atau gambar. Dari pengertian dasar ini, berarti pornografi adalah tulisan atau gambar yang mengandung kesan cabul, kotor, atau jorok.

Dalam RUU pornografi dan pornoaksi pasal 1 ayat 1 terdapat pengertian pornografi yaitu: “substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang  seks dengan cara mengeksploitasi seks, kecabulan, dan atau erotika.”

Sebagian kalangan berpendapat bahwa pengertian seperti itu masih terlalu global dan tidak jelas sehingga memberi peluang munculnya persepsi yang berbeda, tergantung dari sudut mana memandangnya. Karena itu, pengertian ini harus dirinci lagi.

Sebenarnya pengertian diatas sudah cukup jelas. Berdasarkan kriteria ini, berarti foto yang berbau pornografi yang dilakukan artis dan juga masyarat untuk apapun kegunaannya pantas dilarang untuk dipamerkan.

Jika ada yang berkeberatan karena kategori itu tidak cocok dari sisi nilai artistik, maka hal yang harus dipertanyakan adalah siapa yang pantas beradaptasi: karya seni itu sendiri terhadap budaya Islam dan ketimuran atau budaya Islam dan adat ketimuran yang harus beradaptasi terhadap karya seni?

Untuk menjawabnya, tidak salah jika kita membuat pengandaian tentang masjid. Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Kita tidak etis berbuat atau beraktivitas tidak baik ditempat ini, seperti bermain bola atau pacaran. Tempat ini hanya layak untuk tempat ibadah, ceramah agama atau aksi-aksi lain yang berguna dan bermanfaat. Karena itu, umat islam akan marah jika suatu kali masjid digunakan untuk sesuatu yang tidak bernilai ibadah. Bukan berarti selain bernilai ibadah dilarang bermain dimasjid, tetapi tidak detempatnya saja.

Begitu juga dengan berbagai macam pornografi yang beredar di media sosial tidak pada tempatnya. Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan moralitas. Bukan berarti  indonesia adalah negara sekuler. Karena itu, segala bentuk tindakan yang melanggar adat-adat dan moralitas ketimuran atau keberagamaan umat islam, harus dilarang keberadaannya.

Islam menetapkan batas yang tetap tentang aurat. Mana yang boleh dibuka, dan mana yang tidak boleh dibuka dan dipertontonkan dimuka umum. Islam tidak menganut prinsip batasan”public decency”(kepantasan umum) sebagai batas aurat,” ujar Adian Husaini.

Batasan jelas mengenai aurat dalam islam ini diterangkan dalam hadist Aisyah r.a yang berbunyi;”seorang wanita yang telah haidh itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini sambil beliau memegang wajah dan tapak tangannya.”

Menurut jumhur ulama, seperti At-thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya,bahwa aurat wanita itu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga kaki tetap merupakan aurat yang tidak boleh diperlihatkan kepada selain muhrimnya.

Al-malikiyyah dalam kitab ‘asy-Sharhu As-Shaqhir’ atau sering disebut kitab Aqrabul masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batasan aurat wanita merdeka dengan laki-laki ajnabi(yang bukan mahram) adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

As-Syairazi, pengikut mazhab Asy-Syafi’iyyah, dalam kitabnya ‘al-Muhazzab’, mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.

Namun sebahagian ulama Al-Hanafiyah dan khususnya Imam Abu Hanifah ra. Mengatakan bahwa yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki. Kaki yang dimaksud bukan dari pangkal paha tapi yang dalam bahasa arab disebut qadam, yaitu dari tumit kaki kebawah. Menurut beliau qadam bukan karena aurat karena kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan. Sehingga para wanita pengikut mazhab al-Hanafiyah sudah merasa cukup shalat dengan memakai rok panjang sebagai bawahan tanpa harus menutup bahagian bawah kakinya dan tanpa harus mengenakan kaus kaki.

Terlepas dari perbedaan pendapat diatas, Majelis Ulama Indonesia(MUI) sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa yang jelas tentang batasan pornografi dan pornoaksi pada tahun 2001. Di antara bunyi fatwa MUI itu sebagai berikut:

Pertama, bahwa mengambarkan secara langsung atau tidak langsung tingkah laku secara erotis, baik dengan lukisan, gambar,tulisan, suara, reklame, iklan, maupun ucapan; baik melalui media cetak maupun elektronik yang dapat mengakibatkan nafsu birahi adalah haram.

Kedua, membiarkan aurat terbuka dan atau berpakaian ketat atau tembus pandang dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.

Ketiga, melakukan pengambilan gambar sebagaimana dimaksud pada langkah 2 adalah haram.

Keempat, melakukan hubungan seksual atau adengan seksual dihadapan orang, melakukan pengambilan gambar hubungan seksual atau adengan seksual baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain dan melihat hubungan seksual atau adengan seksual adalah haram.

Kelima, memperbanyak, mengedarkan, menjual, maupun membeli dan melihat atau memperhatikan gambar orang, baik cetak atau visual yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat tembus pandang yang dapat membangkitkan nafsu birahi, atau gambar hubungan seksual adalah haram.

Keenam, berbuat intim atau berdua-duaan (khalwat) antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, dan perbuatan sejenis lainnya yang mendekati dan atau mendorong melakukan hubungan seksual diluar pernikahan, adalah haram.

Ketujuh, memperlihatkan aurat yakni bagian tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki serta seluruh tubuh wanita kecuali muka, telapak tangan dan telapak kaki adalah haram, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan secara syar’i.

Kedelapan, memakai pakaian tembus pandang atau ketat yang dapat memperlihatkan lekuk tubuh adalah haram.

Dari beberapa butir fatwa MUI di atas tampak jelas batasan pornografi itu seperti apa. Jika saja butir-butir MUI ini dijadikan standar maka mestinya kita menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh artis dan masyarat yang melakukan pornografi adalah perbuatan yang sangat salah. Mereka harus iklas menyadari kesalahannya itu dan mau bertaubat kepada Allah SWT.

Sebagai catatan akhir, bahwa karya seni yang baik dan bernilai artistik tinggi tidak harus menampilkan adengan molek atau vulgar dari bagian tubuh kita. Jika mereka memaksakan diri untuk membuat hal yang berbau pornografi maka bukan di indonesia tempatnya tetapi diluar negeri. Bahkan di ingris sendiri sebenarnya, orang yang melakukan pornoaksi seperti tidak memakai pakaian didepan umum akan dijerat hukum.

Jadi, sekali lagi, selama kita hidup di negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka perspektif yang harus dijadikan standar adalah perspektif budaya Islam atau budaya ketimuran, bukan perspektif barat atau alasan seni artistik belaka dan ini tidak bisa di tawar lagi. Wallahu ‘alam bil shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *