Kategori
Buah Pikir

GERAKAN “ONE DAY ONE BOOK” MENINGKATKAN SEMANGAT LITERASI DI PERPUSTAKAAN TK ISLAM RAUDHATUL JANNAH KOTA PAYAKUMBUH

Perkembangan era teknologi informasi dan komunikasi membuat anak tegantung pada gadget. Permasalahan ini cukup meresahkan dunia pendidikan. Anak yang belum melek huruf sama sekali, sangat tertarik dengan smartphone, atau alat komunikasi yang memberikan fasilitas bermain yang kadang membuat anak kecanduan.

Permasalahan yang demikian dapat diatasi jika setiap anak merasakan mencintai sesuatu yang positif dan membangun pola pikir mereka. Salah satu caranya adalah menumbuhkembangkan cinta pada buku sebagai jendela ilmu, sehingga cinta buku lebih bermakna dan tertanam sejak usia dini dibandingkan dengan bermain gagdet, termasuk di Taman-taman Kanak (TK). Walaupun belum semua anak TK dapat membaca tulisan namun dengan tersediannya buku anak-anak yang bergambar dan menarik di TK, akan menimbulkan minat baca dan menanamkan kecintaan anak pada buku.

Disamping itu sudah menjadi rahasia umum kalau sebagian besar orang tua menginginkan anak-anaknya tamat TK sudah bisa membaca. Berbagai upaya dilakukan orang tua dan guru agar anak Tk bisa membaca, namun terkadang caranya belum tepat bahkan cenderung memaksakan agar anak bisa membaca. Padahal ada tahapan-tahapan membaca yang semestinya difahami oleh guru dan orang tua sehingga anak bisa membaca secara alamiah tanpa ada tekanan.

Di TK Salah satu sarana pendukung proses pembelajaran adalah perpustakaan. Perpustakaan di TK memang belum umum kita dengar, apalagi perpustakaan yang dikelola dengan profesional seperti perpustakaan-perpustakaan di sekolah dasar dan menengah. Keberadaan perpustakaan di TK sepertinya belum terlalu penting. Padahal kita menyadari bahwa buku adalah gudang ilmu dan membaca merupakan perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW saat diangkat menjadi Rasul. Maka seharusnya keberadaan perpustakaan atau sudut baca di TK menjadi hal yang penting dan menjadi perhatian bagi guru-guru dalam menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap buku sejak usia dini.

Berdasarkan hal diatas TK Islam Raudhatul Jannah Kota Payakumbuh tahun 2011 mendirikan Perpustakaan TK Islam Raudhatul Jannah. Perpustakaan ini secara umum difungsikan sebagai tempat membaca dan meminjam buku bagi anak, orang tua murid dan guru. Sementara itu di kelas-kelas juga disediakan sudut baca yang bisa dimanfaatkan oleh anak untuk membaca setelah mereka selesai melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan adanya perpustakaan dan sudut baca di setiap kelas ini maka tahun 2015 dicanangkanlah sebuah gerakan yang dinamakan Gerakan Anak Cinta Buku. Sebagai lanjutan dari gerakan anak cinta buku maka tahun 2019 ini gerakannya lebih difokuskan lagi menjadi gerakan “One Day One Book” atau satu hari satu buku. Diharapkan gerakan ini akan memudahkan anak mencintai buku dan menumbuhkan minat membaca buku setiap harinya sehingga semangat literasi makin meningkat.

Dalam hasanah pembelajaran bahasa, literasi diartikan melek huruf, kemampuan baca tulis, kemelekwancanaan atau kecakapan dalam membaca dan menulis (Teale & Sulzby, 1986; Cooper, 1993:6; Alwasilah, 2001). Pengertian literasi berdasarkan konteks penggunaanya dinyatakan Baynham (1995:9) bahwa literasi merupakan integrasi keterampilan menyimak, berbicara, menulis, membaca, dan berpikir kritis. James Gee (1990) mengartikan literasi dari sudut pandang ideologis kewacanaan yang menyatakan bahwa literasi adalah “mastery of, or fluent control over, a secondary discourse.” Dalam memberikan pengertian demikian Gee menggunakan dasar pemikiran bahwa literasi merupakan suatu keterampilan yang dimiliki seseorang dari kegiatan berpikir, berbicara, membaca, dan menulis.

Pengalaman literasi anak pada usia prasekolah diyakini akan membentuk fondasi yang kuat pada perkembangan membacaya (Levy, Gong & Hessel, 2005). Pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak prasekolah yang menjadi dasar membaca dan menulis disebut dengan kemampuan literasi awal (Whitehurst & Lonigan, 2001). Kemampuan literasi anak prasekolah yang baik membantu anak untuk lebih mudah belajar membaca dan meningkatkan tingkat kesuksesan anak di sekolah (Senechal & LeFreve, 2002).

Perkembangan kemampuan membaca anak dapat dikategorikan ke dalam beberapa tahap. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2009 : 8-9) perkembangan membaca anak-anak dapat dikatagorikan ke dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut : 1) Tahap Magic; Pada tahap ini belajar tentang guna buku, mulai berpikir bahwa buku adalah sesuatu yang penting. Anak melihat-lihat buku, membawa-bawa buku, dan sering memiliki buku favorit. 2) Tahap Konsep Diri; Anak melihat diri sendiri sebagai pembaca, mulai terlihat dalam kegiatan “pura-pura membaca”, mengambil makna dari gambar, membahasakan buku walaupun tidak cocok dengan teks yang ada di dalamnya. 3) Tahap Membaca Antara; Anak-anak memiliki kesadaran terhadap bahan cetak (print). Mereka mungkin memilih kata yang sudah dikenal, mencatat kata-kata yang berkaitan dengan dirinya, dapat membaca ulang cerita yang telah ditulis, dapat membaca puisi. Anak-anak mungkin mempercayai setiap silabel sebagai kata dan dapat menjadi frustasi ketika mencoba mencocokkan bunyi dan tulisan. Pada tahap ini, anak mulai mengenali alfabet. 4) Tahap Lepas Landas; Pada tahap ini anak-anak mulai menggunakan tiga system tanda/ciri yakni grafofonik, semantik, dan sintaksis. Mereka mulai bergairah membaca, mulai mengenal huruf dari konteks, memperhatikan lingkungan huruf cetak dan membaca apa pun di sekitarnya, seperti tulisan pada kemasan, tanda-tanda. Resiko bahasa dari tiap tahap ini adalah jika anak diberikan terlalu banyak perhatian pada setiap huruf. 5) Tahap Independen; Anak dapat membaca buku yang tidak dikenal secara mandiri, mengkonstruksikan makna dari huruf dan dari pengalaman sebelumnya dan isyarat penulis. Anak-anak dapat membuat perkiraan tentang materi bacaan. Materi berhubungan langsung dengan pengalaman yang paling mudah untuk dibaca, tetapi anak-anak dapat memahami struktur dan genre yang dikenal, serta materi ekpositoris yang umum.

Tahapan membaca ini menjadi acuan yang penting bagi guru untuk menggiatkan anak-anak mencintai buku karena tiap anak berbeda tahapannya. Masing-masing tahapan memerlukan penangan yang sesuai agar tahapan membaca anak makin meningkat. Guru dan orang tua yang paham dengan tahapan membaca anak tidak akan memaksa anak membaca sesuai keinginan mereka. Anak akan diberi kesembapatan membaca sesuai tahapannya dan guru atau orang tua mengambil perannya sebagai motivator dalam mendampingi anak saat membaca buku.

Kriteria Pemilihan Buku untuk Anak; 1) Material dan Kemasan Buku. Menggunakan bahan yang aman bagi anak, misalnya tidak runcing dan tajam.Kertas tebal dan tidak licin sehingga memudahkan anak untuk membuka-buka halaman buku, misalnya yang terbuat dari karton kaku yang dilipat dengan halaman yang berwarna-warni atau menggunakan bahan kain atau vinil lembut. 2) Isi Buku memiliki tema menarik dan sesuai dengan usia serta perkembangan anak, yaitu untuk anak usia 3-6 tahun anak lebih tertarik dengan gambar yang mengandung informasi, tindakan dan terperinci. 3) Karakter / Tokoh Cerita hindari buku yang mengungkapkan karakter/tokoh jahat, namun carilah tokoh yang baik yang bisa jadi teladan bagi anak. 4) Ilustrasi / Gambar tidak mengandung unsur SARA, mencakup banyak warna cerah dengan kualitas yang baik, berukuran cukup besar, tidak abstrak, tidak menyeramkan. Ilustrasi tidak ambigu bagi anak, misalnya terlihat jelas perbedaan ilustrasi tokoh wanita atau pria. Membuat banyak ilustrasi, minim tulisan dan disesuaikan dengan karakteristik anak. Kriteria buku ini harus menjadi perhatian agar buku-buku yang tersedia diminati anak walaupun anak-anak belum bisa membaca namun anak senang dengan buku-buku yang ada di sekitarnya.

Perpustakaan TK Islam Raudhatul Jannah sangat memperhatikan ketersediaan buku yang menarik bagi anak. Saat ini tersedia kurang lebih 1150 buku yang bisa dibaca dan dipinjam anak setiap hari. Dari proses peminjaman buku yang setiap hari dilakukan anak terlihat gerakan “One Day One Book” berhasil dilaksanakan. Bersumber catatan yang dilakukan oleh penanggungjawab perpustakaan diperkirkan lebih dari 75% rata-rata anak meminjam buku setiap hari. Sebagai penghargaan setiap bulannya anak yang meminjam buku terbanyak masing-masing kelas akan diberi hadiah oleh guru.

Peran serta orang tua dalam gerakan ini sangat diharapkan. Orang tua dirumah bisa mendampingi anak saat membaca. Bagi anak yang belum bisa membaca orang tua bisa membacakan buku yang dipinjam anak tersebut sehingga besok bisa dipinjam lagi buku yang baru. Bagi anak yang sudah bisa membaca orang tua bisa menanyakan apa yang sudah dibaca anak. Hal ini tentu akan meningkatkan pemahaman anak tentang apa yang dibacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *