Kategori
Buah Pikir

Game On/Offline?

Tulisan: Naila Aisha Fitriani

(Siswi SMP Islam Raudhatul Jannah)

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan istilah game, bahkan semua kalangan dari anak kecil sampai orang tua pasti mengenal istilah ini. Saat ini sudah banyak bermacam-macam game yang sudah beredar luas di luar sana. Sebuah aplikasi hiburan di kala suntuk dan lelah. Namun bagaimana jadinya jika hal tersebut disalahgunakan?

Memang, bermain game itu asyik. Melatih skill dan pantang menyerah hingga permainan itu

berhasil dimenangkan.

Apalagi bila sering memenangkannya, kita bakalan di kasih predikat “Pro player.” Mantep ga tuh? Jenis game ada 2 yaitu online dan offline. Bedanya sih kalau yang online memerlukan kuota agar bisa memainkannya. Sangat mengasyikkan sepertinya.

Walaupun saya belum pernah memainkannya dan tak akan pernah mencoba, namun saya tahu dampak buruk nya sangat banyak. Apalagi untuk para cowo-cowo labil yang

kebanyakan mudah terpengaruh. Game dapat membuat kecanduan. Sekali bermain, kalau menang kan pengen main lagi sampai puas. Ya kan? Bahkan ada yang sampai larut malam, hingga kelelahan dan susah mengatur pola makan. Diri sendiri menjadi tidak terurus. Game menyebabkan mata menjadi rusak. Akibat radiasi handpone yang masuk secara berlebihan ke dalam mata, dapat membuat mata menjadi minus. Pandangan menjadi kabur dan tidak jelas lagi. Apalagi jika bermain nya sambil rebahan. Itu akan membuat mata menjadi cepat lelah. Sama saja dengan menyia-nyiakan ciptaan Allah, Allah menciptakan mata untuk melihat, terutama sesuatu yang baik dan terpuji. Tetapi kenapa malah di sia-siakan demi kesenangan dunia?

Berikutnya, meskipun saya belum pernah bermain game, tetapi saya tahu jika di dalam game banyak unsur pornografinya. Saya pernah melihat, yang di game mobile legend, pakaian wanita yang tidak sopan. Di pamer-pamer kan di status medsos masing masing

Na’udzubillah lah.

Dan yang terakhir, prestasi sekolah menurun. Remaja millenial sibuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak mau mencari tahu dampaknya. Salah jali banget tuh! Kalau sudah kecanduan, pasti pengennya main terus, hingga lupa kewajiban nya sebagai

siswa. Melupakan tugas, menjadi malas, dan pasrah terhadap nilai.

Banyak lagi dampak negatifnya. Kurangi bermain game, boleh sih tetapi jangan berlebihan. Hanya sekedar untuk hiburan tidak apa-apa. Saya disini masih heran, kenapa ya suka banget gitu? hingga lupa waktu. Lebih baik kerjakan kegiatan yang lebih bermanfaat dan berguna. Perbanyak membaca buku, rajin ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Luangkan waktu untuk menghafal Alquran, jangan mencari waktu luangnya. Siapa tahu, dengan begitu kita tidak terlalu terbawa arus akhir zaman yang kejam ini.

Kategori
Buah Pikir

Tik Tok

Tulisan: Syaikha Naila Aisha

(Siswi SMP Islam Raudhatul Jannah)

Tiktok? Siapa lagi human yang tidak mengetahui aplikasi satu ini. Tiktok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik Tiongkok yang diluncurkan pada September 2016

oleh Zhang Yiming, pendiri Toutiao. Aplikasi tersebut membolehkan para pemakai untuk membuat video musik pendek mereka sendiri. Nah seperti yang kita ketahui, tiktok ini telah merajalela. Bahkan pas saya lihat di playstore, sudah di download oleh 100 juta people di dunia. Tetapi apakah dampak dari bermain tiktok tersebut?

Ya, dampak positifnya untuk sekedar mencari kesenangan dan kegembiraan. Apalagi pas ngumpul-ngumpul bareng keluarga, atau teman. Pasti bakal bikin video untuk dijadikan

kenang-kenangan. Juga untuk mengekspresikan perasaan kita pada saat itu. Apalagi kalau musik nya keren dan mengasyikkan. Namun, menurut saya, itu akan lebih banyak memberikan pengaruh negatif. Terutama pada perempuan, jika pengguna melakukan gerakan yang sangat berlebihan, itu akan mengundang syahwat dan dosa bagi para penonton nya. Kecuali jika video itu hanya disimpan sendiri, tidak untuk di posting ke media sosial. Tiktok juga bisa membuat kecanduan bagi pengguna nya. Terutama yang followers nya itu sudah banyak. Bahkan

saya pernah melihat suatu meme yang berisi sindiran kepada kepala daerah yang bermain aplikasi tersebut. Sindiran itu adalah “kok malah main tiktok pak? Banjir tuh yang diberesin.”

Lalu, saya pernah memposting suatu larangan bermain tiktok.

Kalimat nya begini “Rasa malu adalah suatu benteng yang sangat efektif untuk menghindarkan kita dari segala bentuk perilaku buruk. Tiktok misalnya. Rasulullah Saw bersabda, sesungguhnya perkataan nabi terdahulu yang tidak di ketahui manusia adalah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu. (H.R Bukhari).”

Setelah itu banyak saja yang berkomentar terhadap postingan saya. Seperti “kamu jangan terlalu alim, dan lain sebagainya.” Ini bukan persoalan terlalu alim atau apanya, tetapi

agama sudah melarang melakukan hal seperti itu. Hendaklah menjaga pandangan dan aurat nya. Itu kan sudah diatur oleh agama.

Jadi, sudah seharusnya kita selektif terhadap pengaruh yang masuk. Jika itu akan merusak ibadah kita kepada Allah,mendatangkan lebih banyak mudharat daripada manfaat sebaiknya

jangan dilakukan. Sebaiknya lakukan kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai ibadah. Usia bumi sudah semakin tua, dan ada juga yang sudah meramal bumi akan kiamat.

Itu setidaknya menjadi pengingat bagi kita untuk menghindari perbuatan maksiat.

Kategori
Buah Pikir

Mengajarkan Anak Belajar Bertanggung Jawab

Tulisan

Marwit Irianto,S.HI,.MH

(Guru PAI SMP Islam Raudhatul Jannah)

Azan Subuh telah berkumandang. Udara pagi yang dingin menusuk tulang. Melihat anak-anak yang masih dibungkus selimut, tak tega rasanya kita  untuk mengusik mimpi panjangnya. “Kasihan… biarkan saja….” Bisikan syetan pun turut membantu, agar tidak mengganggu mereka dalam lelapnya.

Bisa jadi kita sering menghadapi hal ini. Belum lagi anak-anak biasanya memang sangat sulit dibangunkan. Entah karena tidur terlalu malam, atau memang belum terbiasa bangun pagi. Padahal waktu subuh merupakan waktu yang spesial. Sejatinya, inilah detik-detik terpenting untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab anak sejak dini.

Mari kita memulai dengan sebuah pertanyaan. Mengapa pada periode kenabian, anak-anak yang memasuki usia baligh benar-benar mampu bertindak dewasa. Diantara mereka ada yang minta diikutkan dalam barisan perang, bahkan ada salah seorang sahabat yang memiliki cucu pada usia 22 tahun. Lebih dari itu, Beliau SAW pun sejak kecil sudah terbiasa menghidupi dirinya sendiri dengan mengembala kambing.

Kontruksi budaya masa kini yang entah darimana asalnya telah melahirkan anak-anak yang mengalami keterlambatan kemandirian. Anak-anak kita, yang biasanya memasuki masa baligh pada usia 9-15 tahun, terkadang masih dianggap kanak-kanak. Lihatlah anak usia SMP/ SMA sering kita pandang sebelah mata. Belum cukup umur dan belum bisa dimintai pendapatnya. Padahal di usia itu, anak telah memiliki taklif. Dianggap mampu memikul beban. Sehingga telah dimintai pertanggungjawabannya sebagai hamba Allah yang berakal.

Justru yang tidak bisa dimengerti, ketika ada larangan bagi anak usia SD/ SMP yang mencoba belajar mandiri. UU Perlindungan Anak berbicara dengan dalih ‘mempekerjakan anak usia di bawah umur.’ Padahal yang akan mereka lakukan adalah pekerjaan yang halal. Kita lupa, Rasulullah suri tauladan,mengembala kambing  sejak usia belia. Dan ini tidak menjadi masalah. Justru sebaliknya melatih kemandirian dan jiwa kepemimpinan dalam diri Beliau SAW.

Menanamkan Tanggung Jawab Sejak Dini

Banyak faktor yang mengantarkan seorang anak untuk berlatih bertanggung jawab. Pada dasarnya hal ini dimulai dari proses interaksi antara orang tua dengan anak di dalam keluarga. Orang tua adalah figur. Apa yang dibiasakan di dalam rumah, akan menjadi modal pengetahuan, pemahaman dan kebiasaan pada diri anak.

Bagaimana caranya?

Pada anak usia dini, latihan dapat dilakukan dengan memberikan tugas-tugas pribadi yang sangat sederhana. Seperti makan sendiri, mandi sendiri, membereskan mainan sendiri, hingga  memelihara barang miliknya. Setelah itu meningkat pada tugas yang lebih komplek seperti membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, dan lain-lain.

Yang perlu diperhatikan, sebagai orang tua hendaknya kita tidak langsung memberikan bantuan ketika anak mengalami kesulitan. Biarkan mereka mencoba. Biarkan mereka berusaha. Sertakan dorongan dan semangat agar mereka tak mudah menyerah. Setelah anak berada pada puncak kesulitan, barulah kita mengulurkan tangan untuk membantu.

Berikan pula kesempatan kepada anak untuk berinisiatif melakukan berbagai pekerjaan dan aktivitas. Biarkan anak belajar dari kesalahan, meski terkadang cukup merepotkan orang tua. Baik itu akibat gelas pecah alih-alih mencucinya sendiri atau tangan yang terkena duri setelah mencoba untuk membersihkan kebun. Biarkan mereka terus berkembang dan produktif selama masih dalam koridor syariat Allah.

Bagaimana bila anak melakukan kesalahan berkenaan dengan ketaatan kepada Allah? Ada sebuah cerita menarik dari ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi Ra, tentang penanaman tanggung jawab ini. Beliau mengisahkan, “Ibuku pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah Saw untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum sampai kepada Beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika tiba di rumah Rasulullah, Beliau menjewer telinga saya seraya bersabda: ‘Wahai anak yang tidak amanah’.” (HR Ibnu Sunni). Subhanallah… betapa Nabi SAW memberikan contoh yang gamblang, bagaimana menghadapi kesalahan yang dilakukan anak.

Akan tetapi, jangan lupa pula memberikan apresiasi positif tehadap setiap pekerjaan anak. Meski hasilnya jauh dari yang diharapkan, anak-anak akan merasa bangga dan dihargai atas setiap usaha yang dilakukan. Perlu diingat, bukan kualitas hasil saja yang menjadi patokan, namun juga kesungguhan mereka dalam berusaha.

Salah satu apresiasi positif yang sangat diharapkan anak adalah dorongan dan motifasi untuk mandiri. Berbagai kisah para sahabat yang selalu bersungguh-sungguh dalam setiap langkahnya, bertebaran dalam lembaran sejarah yang agung. Baik tentang Abdurrahman bin Auf berusaha dari titik nol, hingga menjadi pedagang yang sukses. Atau Bilal bin Rabah yang hanya seorang budak, hingga menjadi hamba merdeka dan mulia di sisi Allah dan RasulNya.

Nah, siapkah kita melatih mereka menjadi pribadi yang mandiri? In sya Allah…

 

Kategori
Buah Pikir

Terkadang Seseorang Lebih Khusyuk dalam Berdoa Ketimbang Sholatnya Sendiri

 

Dizaman millenial yang apa-apa serba trendi, menjadi momok bagi pemuda. Ini bukan hal yang menakutkan, namun ini adalah konflik batin pemuda dengan pemikiran serta situasinya. Sebagai contoh, launching handpone merk terbaru dengan series terbaru, semua pemuda akan berlomba lomba untuk membelinya dengan cara apapun.

Mirisnya, cara-cara tak lazim pun dipertontonkan, seperti salah satunya yang dilakukan pemuda-pemudi tersebut adalah menjual diri. Namun tidak semua kalangan dari pemuda-pemudi tersebut melakukan cara ‘kotor’ tersebut.

Adapula yang menggunakan akal sehatnya, caranya bukan tergolong ‘kotor’ namun cenderung ekstrem, seperti contohnya bekerja sampai melupakan tugas sekolah bahkan berhenti sekolah agar bisa leluasa bekerja agar keinginan mengikuti tren bisa diikuti. Adapun pemuda yang hanya dengan berharap, agar orang tua segera membelikan atau dikasih hadiah olehnya.

Pembahasan kali ini kita spesifikan cara pemuda yang terakhir, yaitu dengan doa dan harapan. Bagi umat muslim sangatlah lazim, jika usaha diiringi dengan doa. Namun, didalam sholat ada aturan bacaan yang tidak dapat dirubah, sehingga mereka tidak bisa menyebutkan keinginan, doa dan harapan mereka.

Akibatnya, mereka cenderung tidak khusyuk dalam sholat dan menyegerakan ingin berdoa agar hal-hal yang diinginkan bisa diucapkannya. Hal ini lah yang kita sebut dengan “Khusyuk dalam berdoa, ketimbang sholatnya sendiri”. Hal ini tentu bertolak belakang dengan prinsip-prinsip kehidupan yang salah satunya yaitu jika ingin sesuatu maka berusaha dan berdoalah. Sudah sholat tidak khusyuk, namun meminta nya dengan cara yang paling serius. Hal ini bisa diibaratkan seperti duduk ditepi menyedu air, berharap sampai dilidah adalah susu.

Ada pembahasan-pembahasan yang perlu kita ketahui, salah satunya orang yang berusaha tanpa berdoa adalah liberal dan orang yang berdoa tanpa berusaha adalah omong kosong. Apa solusinya jika disuruh memilih? Jawaban paling tepat adalah dengan melakukan keduanya, lakukan usaha maksimal dengan doa terkhusyuk.

Kategori
Buah Pikir

CARA BELAJAR MENYENANGKAN

 

Oleh: HM Farid Wajri RM, S.Ag., S.Pd.I

(Guru PAI dan Bahasa Arab SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh)

 

Nick Vujicic lahir tanpa lengan dan tungkai atau biasa disebut sindrom tetra amelia. Dia memiliki sebuah kaki mungil di bagian kaki kirinya yang ia gunakan untuk menggulingkan badan, menendang, menulis, mengetik, dan aktivitas lainnya. Nick yang lahir pada tanggal 4 Desember 1982 menjadi motivator dunia yang mengunjungi berbagai negara untuk memotivasi banyak orang. “Tanpa lengan dan tungkai, aku bisa menaklukkan dunia,” begitulah salah satu kutipan tulisannya.

Kisah nyata Nick Vujicic di atas mengajarkan satu hal bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik sekalipun, tetap bisa terampil melakukan banyak hal. Lalu mengapa kebanyakan manusia yang diberi kelengkapan fisik yang sempurna dan berfungsi baik, tidak mencoba menggunakan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya untuk belajar?

Cara memulai belajar sebenarnya sederhana saja: 1) Mulai dari yang termudah yang bisa dipelajari, 2) lalu lanjutkan dengan sejumlah hal baru yang belum diketahui, dan                      3) tingkatkan kemampuan dengan belajar lebih sering dan efisien.

“Belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak memahami menjadi memahami dan lain lain …” [Gina Al Ilmi, (2008), hal. 8]

Berdasarkan definisi yang ditulis oleh Gina Al Ilmi di atas, penulis menyimpulkan bahwa inti dari belajar adalah perubahan dari tidak mempunyai menjadi mempunyai: Dari tidak mempunyai pengetahuan menjadi mempunyai pengetahuan; Dari tidak mempunyai kepandaian menjadi mempunyai kepandaian; Dari tidak mempunyai kebiasaan menjadi mempunyai kebiasaan; Dari tidak mempunyai kemampuan menjadi mempunyai kemampuan; Dari tidak mempunyai keterampilan menjadi mempunyai keterampilan; Dari tidak mempunyai pengertian menjadi mempunyai pengertian; Dari tidak mempunyai pemahaman menjadi mempunyai pemahaman, Dst.

Belajar itu memiliki alat. Alatnya ada 3, yaitu: 1. Otak. Otak merupakan bagian yang paling penting dari tubuh manusia. Karena semua gerakan tubuh, fungsi organ-organ tubuh, dan semua pusat kehidupan manusia terletak di otak. 2. Hati. Hati merupakan salah satu anggota tubuh manusia yang apabila dia baik maka baik anggota tubuh yang lain dan apabila ia buruk maka buruk anggota tubuh yang lain (Hadits Rasulullah Saw.). 3. Pemikiran. Pemikiran adalah kegiatan manusia mencermati suatu pengetahuan yang telah ada untuk mendapatkan atau mengeluarkan pengetahuan yang baru atau yang lain. Pemikiran dengan otak menggunakan logika sementara pemikiran dengan hati menggunakan rasa. Keduanya ini sama pentingnya asal ditempatkan pada proporsinya.

Dalam belajar, manusia hanya perlu untuk menguasai apa yang sudah dimilikinya sejak kecil, yaitu: kemampuan sederhananya berupa mendengar,  melihat,  menulis,  berhitung, dan merenung. Merenung diri sering dilupakan banyak manusia.

Merenung adalah aktifitas berfikir mendalam (deep thinkings) yang sungguh berbeda dengan termenung. Merenung adalah secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian yang mendalam. Sedangkan termenung adalah gambaran tentang kondisi hanyutan sebuah pikiran, tentu saja ia kehilangan  efektivitasnya karena memang sedang out of control, di luar kendali. Termenung biasa dikatakan meratapi hidup.

Renungan berasal dari kata renung artinya memikirkan sesuatu. Jadi, renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal secara mendalam untuk kemudian berusaha mencari pokok persoalan dan berupaya memperoleh solusi/jalan keluarnya.

Untuk menjadi cerdas perlu 2 sebab berikut: Otak dan Kemauan. Pertama, Otak. Allah membekali setiap manusia yang lahir dengan otak. Otak memiliki empat bagian utama, yakni otak bagian belakang, tengah, depan, dan otak kecil. Masing-masing bagian otak ini memiliki fungsi dan tanggung tanggung yang tidak sama. Otak akan menerima rangsangan dengan pengalaman-pengalaman baru yang diterimanya melalui panca indra. Otak memiliki kemampuan memilih dan memilah tiap rangsangan yang masuk untuk diterima dengan baik atau diabaikan.

Kedua, Kemauan. Kemauan berkaitan dengan sikap internal/dari dalam manusia. Kemauan sangat menentukan. Ketersediaan fasilitas tidak menjamin seseorang bisa cerdas ketika dia tidak memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Dalam arti  bahwa dia sendiri yang tidak mau menjadi cerdas padahal buku dan guru ada di sisinya. Sebaliknya, tatkala kemauannya kuat, saat tidak ada fasilitas yang memadai pun maka ia berusaha dengan fasilitas seadanya menjadi cerdas. Dia berdiskusi dengan teman, belajar dari yang sudah lebih dahulu mampu, dsb.

Memaksimalkan kemampuan otak dan memperkuat kemauan untuk belajar mesti sejalan. Semakin besar tingkat kemauan manusia untuk belajar semakin tinggi derajat kecerdasan dia gapai. Sebaliknya, semakin kecil tingkat kemauan untuk belajar maka semakin rendah tingkat kecerdasan dia raih.

Untuk bisa memahami suatu bahan dengan cepat, caranya adalah dengan 7 ragam berikut, yakni:  1. Membuat kerangka bahan, 2. Membuat peta pikiran,  3. Mencari atau membuat contoh dari apa yang sedang dipelajari, 4. Mencoba mengajari pada diri sendiri, di depan kaca atau pada orang lain, 5. Mewawancarai diri sendiri tentang bahan yang sedang dipelajari, 6. Menulis kembali apa yang sedang dipelajari, dan 7. Mempelajari bahan yang lebih tinggi (lanjutan dari bahan yang dipelajari).

Agar belajar menjadikan cerdas hendaklah menemukan empat hal. Keempat halnya itu adalah: 1) Menemukan apa yang disukai, 2) Menemukan apa yang dinikmati saat melakukannya, 3) Menemukan apa yang memberikan hasil yang tinggi rata dalam hal itu, dan 4) Menemukan apa yang dikuasai dimana orang lain tidak bisa melakukannya.

Howard Gardner membagi kecerdasan dalam area manjemuk. Kecerdasan majemuk itu ada delapan. Kedelapanannya itu ialah cerdas angka, kata, gambar, musik, tubuh, orang, diri, dan alam. Dengan mengacu pada delapan kecerdasan ini, manusia mencermati ke dalam dirinya, mana yang lebih dia sukai, lebih dia nikmati, lebih dapat menghasilkan keterampilan yang dia akan dapat kuasai. Di bidang hitung-berhitung, kata dan kalimat, melukis dan memahat, bermusik, olah tubuh/raga, berhubungan dengan orang lain, instropeksi diri/merenung, ataukah dalam hal natural mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies.

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa IQ ternyata hanya menyumbang maksimal 30 % dalam kesuksesasan seseorang. Hal penting yang menentukan kesuksesan adalah keterampilan. –

Orang pintar tapi tidak terampil. Bayangkan! Bila manusia hanya bisa menghitung evaluasi di atas kertas, menuliskan kembali apa yang telah dihafalkan di dalam kertas ulangan, atau membuat laporan penelitian saja -walaupun dari semua itu manusia bisa mendapat nilai tinggi sewaktu bersekolah- tapi, kesuksesan hidup manusia di luar sekolah/kampus terletak di tangan masyarakat. Maksudnya: apakah lulusan sekolah/madrasah/Perguruan Tinggi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat? Misalnya, pada bidang mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Masyarakat (laki-laki) butuh khotib/orang yang menyampaikan khutbah waktu pelaksanaan shalat Jum’at. Apakah tamatan sekolah/Perguruan Tinggi tadi terampil untuk menyampaikan khutbah Jum’at? Ini tidak cukup dengan pintar dalam hal menjawab pertanyaan: Tuliskanlah rukun khutbah jum’at!

Bisa jadi selama manusia belajar dalam periode yang sangat lama itu ternyata tidak mempelajari apapun, tidak menguasai keterampilan apapun. Semua pengetahuan yang telah diperoleh ternyata tidak berguna untuk keseharian manusia atau manusia tidak tahu bagaimana menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari.

Untuk meningkatkan kualitas diri haruslah manusia bertanya pada diri sendiri sekarang ‘apa yang bisa didalami selama waktu ke depan, sesuatu yang menarik yang disuka, yang mudah dan tidak berat untuk dipelajari terus menerus sampai menjadi ahli? Jawaban dari itu tergantung pada apa yang manusia minati.

Istirahat seimbang perlu saat kita belajar hal baru otak membentuk koneksi sinaps (sambungan antar syaraf) baru. Dan proses pembentuk sinaps ini bisa menyerap hingga 20 % energy dari tubuh kita. Akibatnya, tubuh jadi cepat capek. Untuk mengembalikan energy tubuh kamu, sedotan energy sinaps-sinaps baru itu perlu dilemahkan. Caranya adalah dengan tidur.

Ingatlah. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinu/berkelanjutan/terus-menerus di otak tidak bisa dicegah, tidak bisa dihentikan. Sekali manusia belajar, otak manusia akan menghubungkannya dengan materi lain yang tersimpan di otaknya.

Maju dengan belajar dengan cara: a. Selalu berusaha untuk belajar setiap waktu.                   b. Bisa belajar di mana saja dan kapan saja. c. Otaknya selalu aktif mengolah informasi yang dilihat/didengarnya. d. Selalu tertarik pada banyak hal unik dan baru. e. Terbuka pada berbagai pengalaman. f. Memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. g. Memiliki penjelasan untuk setiap hal yang dilakukan. h. Kreatif dan terampil. i. Produktif, banyak menghasilkan karya asli. j. Memiliki pemikiran dan wawasan yang luas. k. Luwes dalam berpikir, memiliki berbagai sudut pandang. l. Merasa tertantang menyelesaikan masalah yang kompleks.            m. Mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada lingkungan belajar yang baru. n. Memiliki pendapatnya sendiri dalam setiap hal. o. Menganggap kesulitan sebagai tantangan dan bukan masalah. p. Senantiasa cerdas dalam spiritual, yaitu mengaitkan tiap usaha dan kerja keras dengan rasa tawakkal dan berdo’a kepada Allah Swt.

 

DAFTAR REFERENSI

Ilmi, Gina Al, Cara Belajar Asyik, (Banten: PT. Panca Anugrah Sakti, 2008) Cet. ke-1

Lestari, Dwi, Nick Vujicic, Motivator Tanpa Lengan dan Kaki dalam https://www.idntimes.com/news/world/dwi-lestari-1/nick-vujicic-motivator-tanpa-lengan-dan-kaki-c1c2/full

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.10-23-15 WIB

Mubasir, Ahmad, Bagaimanakah Otak Bekerja dalam

https://www.kompasiana.com/am-19/550b592e8133117713b1e69a/bagaimanakah-otak-belajar

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.00-23.10 WIB

Prawiroatmodjo, Soekito, Berpikir Dengan Otak dan Berpikir dengan Hati Memang Beda dalam https://www.kompasiana.com/kito/59e550db7461b109c565a442/berpikir-dengan-otak-dan-berpikir-dengan-hati-memang-beda?page=all

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.50-23.57 WIB

Ulfa,  Juliana Belajar dari “Hati” dan dengan “Hati” dalam https://www.kompasiana.com/juliana.ulfa/54f78f78a33311fa7a8b45f0/belajar-dari-hati-dan-dengan-hati

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.15-23.30 WIB

 

Kategori
Buah Pikir

Memandang Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK) Melalui Kaca Mata Milenial Muslim

Tulisan:

Devis Ade Viyosa (Guru SMA IBS Raudhatul Jannah)

Alam mengajarkan manusia menggunakan akal untuk berfikir agar dapat melangsungkan kehidupannya. Sepanjang sejarah, manusia selalu berpikir menciptakan sesuatu untuk mempermudah dan mempercepat segala bentuk proses aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Buah pikiran dari fenomena alam inilah kemudian yang berwujud dengan nama teknologi. Manusia zaman batu misalnya. Akal dan pikirannya berkembang ketika tidak sengaja menggenggam serpihan batu yang melukai tangannya. Sehingga tangan yang tersayat oleh serpihan batu itu mengeluarkan darah. Kejadian ini membuat dia berpikir kalau batu besar dipecahkan akan menghasilkan serpihan batu yang tajam. Serpihan batu yang tajam ini akan sangat bermanfaat untuk menguliti dan memotong hewan buruannya. Kemudian karena kemajuan berpikir yang terus diasah mulailah mereka menghemat tenaga dan waktu untuk tidak memecahkan batu besar menjadi serpihan batu. Mereka mulai mengenal teknik mengupam (menghaluskan) batu menjadi mengkilap dan tajam sehingga bisa dijadikan alat perburuan. Periode ini dinamakan zaman dimana manusia sudah mengenal teknologi modern yaitu penggunaan batu sebagai instrumen akselerasi dalam kehidupannya sehari-hari.

Dibidang teknologi komunikasi dan informasi. Melihat perkembangan pikiran manusia zaman dulu. Mereka membuat sebuah alat teknologi sebagai simbol kemajuan peradaban. Di awal kehidupan, manusia berinteraksi menggunakan bahasa-bahasa  isyarat yang diringi suara-suara mereka untuk memberikan informasi kepada kelompok. Ketika terjadi salah penafsiran terhadap cara cara mereka memberikan informasi kepada kelompoknya, akal dan fikiran mereka  aktif bekerja menciptakan sesuatu untuk dijadikan alat pemberitahu informasi yang akurat dan penuh  kepastian. Menurut arkeolog nekara adalah alat yang ketika dipukul menghasilkan bunyian pertanda perang sudah dimulai atau pertanda bahwa anggota kelompoknya harus berhati-berhati ada kegaduhan, serta pertanda ada bahaya yang mengancam. Secara tipologi nekara ini berbentuk seperti periuk nasi (dandang) terbalik yang kemudian dikenal sebagai genderang perang. Nekara inilah cikal bakal kentongan yang ada di pos kamling, berkembang menjadi Beduq dizaman Islam.

Menyikapi kekhawatiran sebagian besar dunia pendidikan Islam yang masih diduduki oleh pendidik yang konservatif alias “phobia teknologi,” serta cara berpikirnya masih tradisional yang tidak mau menerima kemajuan teknologi. Tentu perihal ini adalah pertanda awal kemerosotan intelektual yang berujung kepada eksistensi popularitas lembaga pendidikan tersebut dimata masyarakat. Banyak sekolah-sekolah yang tidak memperbolehkan siswanya membawa smartphone ke sekolah. Dapat dipastikan alasan si “phobia teknologi” ini selalu berkutat pada masalah-masalah yang akan terjadi akibat diperbolehkannya siswa membawa smartphone ke sekolah.

Fokus fikirannya konsentrasi dan stagnan terhadap masalah itu. Contohnya saja kalau siswa membawa smartphone kesekolah masalah yang akan terjadi adalah kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin, siswa akan menjadi seseorang individualistis karena ia akan fokus sama smartphonenya masing-masing ketika berkumpul bersama. Nanti bukannya belajar malah membuka situs-situs porno atau main game ketika guru tidak ada. Dan tentunya persoaalan ekonomi adalah masalah yang akan menjadi perdebatan yang memberi harapan kemenangan kepada sang “phobia teknologi ini.

Manusia yang mempunyai pola pikir seperti ini adalah seseorang yang suka bermain aman dalam kehidupan, seseorang yang menganggap permasalahan yang dimunculkan dari teknologi adalah pekerjaan baru yang amat berat baginya. Ketakutan terhadap masalah adalah cara cara orang untuk menghindar dari pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Mereka seperti sekumpulan orang rata-rata yang tidak mau keluar dari zona nyamannya.

Melihat fenomena ini. Kewajiban milenial muslim hadir merubah mindset manusia-manusia yang seperti ini. Cara-cara berfikir seperti ini tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Apalagi untuk lembaga pendidikan Islam. Pada era digital ini milenial muslim cara berpikirnya harus berubah. Bukankah masalah adalah salah satu bentuk seleksi alam yang mengedukasi fikiran manusia? Tanpa masalah kita tidak bisa belajar. Tanpa masalah kita tidak bisa bertumbuh menjadi dewasa. Maka dari itu milenial muslim harus merubah cara berpikirnya bahwa lembaga pendidikan Islam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Dunia pendidikan Islam saatnya mengintegrasikan Agama, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin apabila smartphone digunakan sebagai media belajar anak dalam kelas adalah masalah besar. Cara berfikir seperti ini harus cepat disadari menggunakan sinyal 4G. Sebelum adanya Smartphone kesenjangan sosial sangat terlihat jelas dari harga alat tulis, tas dan sepatu mereka yang bervariasi harganya. Teknologi transportasi mereka ke sekolah juga tampak jelas membedakan anak orang kaya dengan orang miskin. Semua itu tidak menjadi persoalan bagi kelangsungan aktivitas pendidikan. Selain itu, rumor dimasyarakat selama ini yang beredar mengatakan bahwa jelas anak orang kaya itu pintar, karena fasilitas pendidikan mereka lengkap.  Judging seperti ini perlu juga untuk dikritisi.

Ternyata yang bagus akhlak dan prestasinya banyak dari kalangan anak biasa-biasa saja bukan anak orang kaya. Seharusnya permasalahan kesenjangan sosial ini bisa kita jadikan motivasi bagi anak-anak yang tidak mampu untuk rajin menabung, agar mereka bisa membeli smartphone untuk akselerasi pendidikannya. Maka dari itu juga dituntut profesionalisme dan subjektivitas sebuah lembaga pendidikan Islam. Lembaga Pendidikan Islam harus balance dalam memandang kesenjangan sosial ini. Kesenjangan sosial ini tidaklah terlalu krusial untuk diperdebatkan bagi kemajuan dunia pendidikan Islam. Karena, semua siswa pada era digital ini rata-rata satu orang memiliki satu smartphone. Hal ini harus disinyalir cepat oleh lembaga pendidikan Islam. Karena, lembaga tidak perlu lagi mengeluarkan uang dengan jumlah besar untuk pengadaan gadget atau smartphone sebagai media pembelajaran dalam kelas.

Lembaga pendidikan Islam yang kompatibel tentu mempunyai konsep mekanisme sekolah berbasis digital yang berkomitmen kuat. Membawa smartphone diatur sesuai dengan managerial waktu yang telah ditentukan penggunaannya. Pengadaan locker pribadi untuk siswa adalah ide solutif untuk penyimpanan smartphone. Semua siswa yang datang kesekolah harus meletakan smartphone-nya di locker masing-masing. Di pintu locker dibuat sebuah tulisan peraturan pemakaian smartphone hanya diperbolehkan ketika jam pelajaran berlangsung. Jika ada yang melanggar ketentuan, tentu menerima konsekuensi yang telah disepakati antara sekolah dengan siswa tersebut.

Peraturan dibuat untuk ditegakan agar menciptakan budaya pendidikan yang profesionalisme dan berintegritas. Dengan lahirnya budaya pendidikan yang mentaati peraturan. Maka, persoalan individualistis dalam diri siswa karena dampak  penggunaan smartphone diwaktu jam Istirahat, yang mana mereka sibuk dengan Smartphone masing-masing, semua itu  sudah tidak berlaku lagi. Berhentinya sifat individualistis seorang siswa itu tergantung lembaga dan manusia yang menjalankannya bisa bersinergi dengan baik. Karena lembaga pendidikan dan manusia merupakan formulasi dua referensi yang menghasilkan kultur pembentuk kepribadian siswa.

Kesadaran mengakui bahwa melarang sebuah pemikiran adalah pekerjaan sia-sia, merupakan kesadaran manusia yang waras. Setiap detik manusia berfikir. Apa yang dipikirkannya biasanya akan selalu ingin diwujudkan melalui tindakan atau action. Kita tidak bisa melarang negara-negara liberal untuk memproduksi video porno. Karena proyek video porno adalah industri sangat menguntungkan bagi mafia sex. Apalagi dunia internet begitu mudah diakses oleh berbagai kalangan. Tentu internet adalah pasar terbaik untuk penjualan proyek biadab itu. Penggunaan Smartphone tentu lebih memberikan ruang VIP bagi pecinta video porno dari pada menggunakan VCD atau proyektor. Sebelum adanya smartphone persoalan ini sudah menjadi kajian eksclusif dikalangan intelektual yang ingin membangun peradaban sesungguhnya. Jika membawa smartphone kesekolah menjadi masalah karena siswa nonton film dewasa dan main game. Tugas kita milenial muslim adalah mengarahkan pikirannya kejalan yang benar dan berusaha memblokir situs-situs panas itu agar tidak bisa dikonsumsi lagi oleh netizen.

Menggunakan smartphone sebagai media belajar dalam kelas akan menghabiskan kuota internet. Harga pendidikan menjadi mahal. Tentu Masalah ini berhubungan dengan ekonomi keluarga. Kembali lagi kita ke pembahasan diatas. Rata-rata satu siswa memiliki satu Smartphone. Mereka mampu membeli kuota internet hanya untuk membikin snap curhat di WA, buka Instagram untuk stalking story line gebetannya, dan nonton prank yang tidak bermutu di Youtube. Kenapa lembaga pendidikan Islam tidak menyalurkan kuota internet mereka itu untuk PBM di dalam kelas. Sedangkan buku paket masing-masing mata pelajaran terbaru sudah memasukan teknologi. Mereka mencantelkan QR Code Generator didalamnya untuk tambahan referensi bacaan kepada siswa. Apabila Barcode itu kita pindai atau scan dengan smartphone, kita akan dibawa rekreasi untuk mengeksplorasi bacaan langsung ke halaman website. Fantasi sistem belajar seperti ini tentu sangat dirindukan milenial.

Milenial muslim saatnya merubah pola pikir untuk kemajuan umat. Cara berfikir phobia teknologi yang selalu berkutat pada masalah-masalah yang akan terjadi terhadap inovasi yang akan diterapkan, harus ditinggalkan karena berdampak kepada degradasi intelektual muslim. Tentunya kita harus memperhatikan niat setiap langkah yang akan kita ambil. Visi dan misi yang kita ciptakan dengan niat yang baik akan memperoleh hasil yang baik. Dalam perjalanan tentu ada rintangan yang akan dilalui. Sama halnya dengan kendaraan roda dua pertama kali diciptakan tidak memliliki lampu, lampu sen kiri-kanan, sepatbor, dan kaca spion. Ketika pengendara punya masalah tidak bisa melanjutkan perjalanan dimalam hari. Maka dipasanglah lampu untuk penerangan. Ketika terjadi kecelakaan, pengendara paling depan ditabrak oleh pengendara dibelakangnya karena pengendara didepan tidak melihat kebelakang dan tidak memberi kode atau isyarat ketika berbelok dipersimpangan, maka kendaraan roda dua itu dipasang lampu sen dan kaca spion. Kemudian, begitu juga halnya dengan sepatbor. Sepatbor lahir karena kendaraan roda dua yang melintasi jalan berlumpur yang memercik pengendara sehingga pakaiannya menjadi kotor.

Andaikan saja visi dan misi perusahaan yang memproduksi sepeda motor berkutat pada masalah dan masalah yang diakibatkan oleh lahirnya sepeda motor itu, sedangkan niatnya adalah menciptakan sepeda motor agar manusia terbantu dalam beraktivitas sehari-hari, tentu sepeda motor itu tidak dapat kita rasakan kegunaannya hari ini dan perusahaan itu tidak jadi berkembang.

Sejarah selalu memberikan ruang bagi pembaca untuk merefleksikan masa lalu. Berkaca kepada lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Padang Panjang. Sekolah ini berdiri pada 15 Januari 1919. Menurut Audrey Kahin, dalam bukunya Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, perguruan Sumatera Thawalib merupakan penerus dari agama tradisional bernama suaru Djembatan Besi. Sekolah itu didirikan oleh Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)-ayahanda dai HAMKA. Zainuddin Labai el-Junisiah, seorang guru berpikiran maju, mengajar di Surau Djembatan Besi pada tahun 1913. Dialah yang mengubah sistem pendidikan Surau itu menjadi Sumatera Thawalib.

Ciri menonjol sekolah ini adalah model sekolahnya yang modernis, menggunakan meja, kelas-kelas, papan tulis dan kurikulum. Serangkaian komponen sistem belajar ini diperkenalkan oleh negara kolonial yang berkuasa di Indonesia pada waktu itu. Instrumen yang terdapat dalam serangkaian komponen ini seperti: penggunaan kelas, papan tulis, kursi dan meja merupakan teknologi yang modern zaman itu. Penggunaan teknologi modern ini yang terintegrasi ilmu pengetahuan dan agama mampu membuat suasana belajar menjadi menarik dan peserta belajar sangat bergairah dalam mengasahkan fikirannya. Tidak bisa kita pungkiri sekolah ini menjadi pusat pendidikan di Sumatera dan mampu menelurkan tokoh sekelas Buya Hamka.

Bagi orang-orang sukses sejarah juga mengambil berperan sebagai alarm-warning terhadap kehancuran. Kita lihat yahoo merupakan satu-satunya searching enggine yang eksis pada tahun 1990-an. Mereka terlalu lama berada di zona zaman, mereka tidak peduli dengan inovasi-inovasi perusahaan-perusahaan serupa yang muncul belakangan, ternyata akhirnya saat ini menyalip pergerakan maupun kinerja mereka. Yahoo kemudian diakuisisi oleh Verizon karena kalah saing. Verizon membeli yahoo seharga US$ 4,8 milyar. Kalau dikonversikan ke rupiah menjadi 60 Triliun. Harga ini turun drastis. Bill Gates pernah menawar yahoo sepuluh kali lipat dari harga yang dibeli Verizon untuk diakuisisi oleh Microsoft pada masa itu. Semua itu tidak ada gunanya lagi. Penyesalan di masa kehancuran merupakan masa dimana manusia telah gagal menggunakan alat untuk berfikir yang diberikan oleh Tuhan.

Upaya konservasi paradigma phobia teknologi bukanlah suatu cagar budaya yang mahal harganya. Paradigma seperti ini tidak boleh kita rawat. Melainkan kita upgrade dengan cara memberikan tempat kepada teknologi dalam proses pembelajaran.

Islam dan Iptek tidak dapat dipisahkan. Science without religion is blank. Maka Agama yang terintegrasi dengan Iptek merupakan perpaduan sempurna yang menjadi sistem kekuatan milenial untuk membangun peradaban Islam yang kompetitif, berintelektual dan berintegritas. Agama dan Iptek adalah benteng pertahanan umat Islam dalam persaingan global. Apabila milenial muslim meninggalkan Iptek sama saja kita sebagai umat Islam memberikan potret ketertinggalan kita kepada dunia

Kategori
Buah Pikir

BELAJAR DARI WASIAT LUQMAN

 

Tulisan:

Marwit Irianto,S.HI,.MH (Guru SMP Islam Raudhatul Jannah)

Salah satu hamba Allah yang wasiatnya diabadikan dalam Al-Quran adalah Luqman Al-Hakim. Beliau adalah seseorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,”Dan sesungguhnya kami berikan hikmah kepada Luqman”(Luqman:12).

Diantara hikmah tersebut adalah pengetahuan agama dan kebenaran dalam ucapannya. Beliau menjadi pemuda sebelum terutusnya Nabi Daud,dan mengalami kerasulan Daud as.

Tentang sosok Luqman Al-Hakim, Mujahid berkata,”Luqman Al-Hakim adalah seorang budak Habsyi, tebal kedua bibirnya dan pecah-pecah kedua telapak kakinya. Pernah seorang laki-laki datang kepadanya pada suatu majelis ketika banyak orang berkumpul. Orang itu bercerita kepada mereka, lalu berkata kepada Luqman,”Bukankah engkau adalah seorang pengembala domba ditempat ini dan itu?” Luqman menjawab,”Ya.” Orang laki-laki tersebut berkata,”Apa yang membuatmu seperti ini sekarang?” Luqman menjawab,”Bicara yang benar dan diam dari sesuatu yang tidak berguna.”

Wasiat-wasiat Luqman kepada putranya

Tauhid yang benar

Wasiat Luqman kepada putranya tersurat dalam Al-quran,”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada putranya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya,”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”(Luqman:13).

Ketika menafsirkan ayat diatas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,” sebagai orang yang sangat mengasihi dan mencintai putranya, Luqman berwasiat kepada putranya supaya bertauhid yang benar, yaitu menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia memberikan kepada putranya sesuatu yang sangat utama untuk diketahui. Kemudian beliau memberikan peringatan kepada putranya dengan mengatakan,” sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”

Kemudian pada ayat berikutnya Allah SWT memerintahkan agar manusia berbuat baik terhadap kedua orang tuanya, sebagaimana dalam firman-Nya,”Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”(Al-Isra:23)

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang selalu menyebut secara bersama antara perintah menyembah Allah dan berbuat baik terhadap kedua orang tua. Hal ini menunjukkan betapa penting dan luhur nilai berbakti kepada kedua orang tua. Seolah-olah ibadah kepada Allah menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan sikap berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Selalu sadar akan pengawasan Allah

Sebagai hamba yang selalu mengigat Allah SWT, Luqman sering sekali berwasiat kepada putranya agar menyadari keberadaan Allah.

(Luqman berkata):”Hai anakku, sesungguhnya jika ada(perbuatan)seberat biji sawi, dan berada didalam batu,di langit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkanya(membalasnya). Sesungguhnya Allah maha halus lagi Maha Mengetahui.”(Luqman:16)

Allah berfirman,”sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”maksudnya, Allah adalah zat yang Maha teliti, dan pengetahuan-Nya mampu menangkap segala sesuatu. Karena itu tidak ada sesuatupun yang samar bagi-nya, meskipun ia sangat Lembut dan Halus. Semut yang berjalan di atas sebongkah batu hitam di tengah kegelapan malam, sangat jelas di mata Allah SWT.

Dengan menyadari bahwa Allah adalah zat yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui segala sesuatu, manusia akan menyadari bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT. Kesadaran seperti ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak sehingga ia memiliki etika otonom, yaitu etika yang berangkat dari kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT.

Menegakkan shalat dan amar ma’ruf nahi mungkar

Sebagai ayah pendidik, Luqman selalu mengarahkan dan menasehati putranya tentang ibadah shalat dan kebaikan, sebagaimana firman-Nya,”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik, dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar…”(Luqman:17)

Ibnu Katsir menjelaskan, “ yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah melaksanakan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya serta menjaga waktu-waktunya.” Menegakkan shalat juga dapat berarti mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di balik simbol gerakan dan bacaan dalam shalat, seperti keiklasan, kejujuran, kedisiplinan, dan tawadhu’. Inilah yang perlu ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, shalat akan benar-benar menjadi sistem kontrol yang efektif dalam menegakkan etika otonom, dan mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Sabar dalam menghadapi ujian

Sebagai penyeru kebenaran, Luqman selalu mengigatkan pentingnya kesabaran dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT, “…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman:17)

Wasiat Luqman untuk selalu menetapi kesabaran adalah sesuatu yang penting bagi siapa saja. Sebab semua orang akan mengalami ujian dan cobaan dalam hidupnya. Terlebih para juru dakwah, biasanya mengalami ujian yang lebih berat dari pada orang kebanyakan. Karena itu wajar jika Luqman memerintahkan anaknya untuk bersabar. Sebab dia adalah penerus Luqman yang kelak akan menyerukan kebenaran.

Kesabaran merupakan kebutuhan (kewajiban) manusia, sebagaimana firman-Nya,”Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang di wajibkan ( oleh Allah ). Para juru dakwah harus siap bersabar atas semua tantangan yang dihadapinya. Berbagai cacian, hinaan, kekerasan, hingga pengucilan dari khalayak, harus dihadapi dengan lapang dada. Oleh sebab itu, kesabarn merupakan kewajiban bagi penyeru kalimat Allah, sebagaimana redaksi ayat yang mengunakan kata perintah: bersabarlah!

Demikianlah salah satu penafsiran ayat di atas. Ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan perintah bersabar adalah kesabaran atas kesulitan-kesulitan dunia, seperti sakit dan lain sebagainya. Dan juga kesabaran untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat kepada Allah SWT setelah menyesalinya.

Menurut Al-Qurthubi, pengalan ayat,”sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”,mencangkup pengertian kesabaran dalam melaksanakan shalat, menyuruh kebaikan, melarang perbuatan mungkar, dan kesabaran atas siksaan dan ujian. Sebab semua hal itu merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Larangan bersikap sombong

Sebagai pendidik yang agung, Luqman selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. Karena itu beliau melarang anaknya bersikap sombong.” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Luqman:18)

Tentang memalingkan wajah, Al-Qurthubi- dengan mengutip penakwilan Ibnu Abbas ra-berkata,” janganlah kamu memalingkan pipimu dari orang lain karena sombong dan ujub, atau engkau hendak menghinanya.” Maksudnya, engkau semestinya bersikap ramah dan menyenangkan orang lain. Demikian pula seharusnya sikap orang tua kepada anaknya, ramah dan suka menyenangkan hatinya. Sikap ramah orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak dan biasanya akan melahirkan sikap rendah hati dan tidak sombong.

Berjalan dengan keangkuhan adalah larangan agama. Setiap orang tua tidak boleh melakukannya, apalagi di hadapan anak-anak. Sebab, anak-anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

 

Sikap sederhana dan bersahaja

Luqman adalah figur yang bijak. Karena kebijakannya, dia diberi gelar Al-Hakim ( yang bijak). Salah satu kebijakan Luqman yang diajarkan kepada anaknya adalah sikap sederhana dan berbicara sopan, sebagaimana yang diajarkan kepada anaknya adalah sikap sederhana dan berbicara sopan, sebagaimana dalam firman-nya,” Dan sederhanalah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk- buruk suara adalah suara keledai.”(Luqman:19).

Al-Qurthubi mengatakan,’ketika Allah melarang seseorang memiliki sifat-sifat tercela, pada saat yang sama Dia memerintahkan agar mengamalkan sikap-sikap yang mulia. Allah SWT berfirman,” mengamalkan sikap-sikap yang mulia. Allah SWT berfirman,” dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.”

Yang dimaksud sederhana di sini adalah tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Jadi sombong dan angkuh dilarang, sedangkan berjalan santun dan berkata sopan diperintahkan oleh agama.

Selain berjalan dengan santun, sikap utama ayang diajarkan Luqman kepada anaknya adalah bertutur kata yang sopan dan lemah lembut. Menurut Al-Qurthubi, yang dimaksud dengan melunakkan suara adalah memelankan suara sesuai dengan kebutuhan. Sebab, mengeraskan suara di atas kebutuhan adalah sikap takalluf (mengada-ada) yang dapat mengganggu orang lain.

Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”(Luqman:19). Suara keledai adalah contoh suara binatang yang paling buruk sehingga tidak perlu ditiru.

Demikianlah beberapa wasiat Luqman kepada putranya. Sebagai orang tua, semoga kita bisa belajar dari wasiat Luqman untuk mendidik anak-anak kita.

 

 

 

Kategori
Buah Pikir

HABIBIE, PAHLAWAN BANGSA

Puisi Muhammad Fadhilul Dzikri
(Siswa SMP Islam Raudhatul Jannah)

HARI INI, INDONESIA KEMBALI BERDUKA SELURUH RAKYAT MENANGIS

MENDENGAR BERITA,

KAU TELAH PERGI SELAMA-LAMANYA

 

HABIBIE, ITULAH NAMAMU

SEMANGATMU SELALU MEMBARA

TANPA KENAL LELAH KAU SELALU BERUSAHA

BERBUAT YANG TERBAIK UNTUK BANGSA

KINI… KAU TELAH PERGI TINGGALKAN SEMUA

TAPI SEMANGATMU TIDAK AKAN  MATI

WALAUPUN KAU TIDAK LAGI BERSAMA BANGSA INI

 

HABIBIE….

BAPAK BANGSA YANG SELALU BERSAHAJA DAN SEDERHANA

TIADA TERSIRAT KESOMBONGAN DALAM DIRIMU

HINGGGA PATUT JADI CONTOH DAN TELADAN

BAGI BANGSA INI

 

KAU AKAN SELALU HIDUP DI HATI KAMI

PERJUANGANMU AKAN KAMI LANJUTKAN

DEMI IBU PERTIWI TERCINTA

AGAR DIHARGAI DUNIA

 

HABIBIE, PAHLAWAN BANGSA…

NASEHAT, MOTIVASI, DAN JASAMU YANG TIADA TERHITUNG

AKAN KAMI KENANG SEPANJANG WAKTU

SEMOGA ENGKAU TENANG DAN BAHAGIA

BERSAMA PASANGAN YANG TELAH MENUNGGUMU DI SURGA

 

Kategori
Buah Pikir

DI KEABADIAN

Tulisan:
Khalisha Ainna Putri
(Kelas: 9.5 Billingual SMP Islam Raudhatul Jannah)
Angin menghembuskan debu-debu
Menghancurkan gunung-gunung
Memuntahkan isinya

Bumi menggigil terkejut
Langit terbelah, rapuh dan merekah
Menunjukkan kuasa sang Khalik

Isi bumi berhamburan keluar
Terdengar jeritan sangkakala
Nyawa meregang pasrah
Roh jauh meninggalkan jasadnya
Seperti burung yang tlah jauh dari sangkarnya

Jiwa bangkit tanpa rupa
Tak kenal siapa
Melangkah dalam rimbun jiwa
Dan pada saat itu,
Manusia di hadapan tuhannya
Menuju pengadilan utama

Derap langkah menapaki sidratul mustaqim
Meniti dalam helaian tipis yang tlah dibagi tujuh
Dalam pilihan nirwana atau penjara api

Di sana,
Keabadian `kan kau temukan
Tak ada pilihan bagimu
Tak jua bisa berharap `tuk kembali
Itu lah keabadian,
Yang slama ini kau nantikan.

Kategori
Buah Pikir

Merdeka!

Puisi Muhammad Fadhilul Dzikri

(Siswa SMP Islam Raudhatul Jannah)

 

Sampai saat ini ribuan darah telah tertumpah di bumi pertiwi
Sampai saat ini ini ribuan nyawa telah melayang
Sampai saat ini ribuan tulang-belulang telah berserakan
Semua demi satu tujuan dan harapan
Satu kata “Merdeka”

Untuk Indonesia tercinta

 

Dan, saat ini Indonesia telah merdeka
Bangsa besar telah terlahirkan

Semua terwujud dengan perjuangan dan semangat para pahlawan
Dengan tetesan darah dan air mata
Dan jiwa-raga yang dikorbankan
Demi satu impian
Merdeka

 

Tak terhitungkan jiwa-raga gugur di medan pertempuran
Darah segar pejuang merasuk di bumi pertiwi

Tulang belulangmu berserakan
Namun, jenazahmu tersenyum dengan bangga
Menyaksikan kemenangan perjuangan yang tak kan pernah kau nikmati

 

Pahlawan bangsa…

Kami bangga memilikimu walau hanya dari cerita

Doa kami, semoga engkau tenang di alam sana

Semangat dan perjuanganmu tidak akan pernah mati di hati kami

Demi satu kata untuk bangsa tercinta

Merdeka…

 

Sampai saat ini ribuan darah telah tertumpah di bumi pertiwi
Sampai saat ini ini ribuan nyawa telah melayang
Sampai saat ini ribuan tulang-belulang telah berserakan
Semua demi satu tujuan dan harapan
Satu kata “Merdeka”

Untuk Indonesia tercinta

 

Dan, saat ini Indonesia telah merdeka
Bangsa besar telah terlahirkan

Semua terwujud dengan perjuangan dan semangat para pahlawan
Dengan tetesan darah dan air mata
Dan jiwa-raga yang dikorbankan
Demi satu impian
Merdeka

 

Tak terhitungkan jiwa-raga gugur di medan pertempuran
Darah segar pejuang merasuk di bumi pertiwi

Tulang belulangmu berserakan
Namun, jenazahmu tersenyum dengan bangga
Menyaksikan kemenangan perjuangan yang tak kan pernah kau nikmati

 

Pahlawan bangsa…

Kami bangga memilikimu walau hanya dari cerita

Doa kami, semoga engkau tenang di alam sana

Semangat dan perjuanganmu tidak akan pernah mati di hati kami

Demi satu kata untuk bangsa tercinta

Merdeka…