Kategori
Buah Pikir

CARA BELAJAR MENYENANGKAN

 

Oleh: HM Farid Wajri RM, S.Ag., S.Pd.I

(Guru PAI dan Bahasa Arab SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh)

 

Nick Vujicic lahir tanpa lengan dan tungkai atau biasa disebut sindrom tetra amelia. Dia memiliki sebuah kaki mungil di bagian kaki kirinya yang ia gunakan untuk menggulingkan badan, menendang, menulis, mengetik, dan aktivitas lainnya. Nick yang lahir pada tanggal 4 Desember 1982 menjadi motivator dunia yang mengunjungi berbagai negara untuk memotivasi banyak orang. “Tanpa lengan dan tungkai, aku bisa menaklukkan dunia,” begitulah salah satu kutipan tulisannya.

Kisah nyata Nick Vujicic di atas mengajarkan satu hal bahwa orang yang memiliki keterbatasan fisik sekalipun, tetap bisa terampil melakukan banyak hal. Lalu mengapa kebanyakan manusia yang diberi kelengkapan fisik yang sempurna dan berfungsi baik, tidak mencoba menggunakan kelebihan itu dengan sebaik-baiknya untuk belajar?

Cara memulai belajar sebenarnya sederhana saja: 1) Mulai dari yang termudah yang bisa dipelajari, 2) lalu lanjutkan dengan sejumlah hal baru yang belum diketahui, dan                      3) tingkatkan kemampuan dengan belajar lebih sering dan efisien.

“Belajar adalah proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak memahami menjadi memahami dan lain lain …” [Gina Al Ilmi, (2008), hal. 8]

Berdasarkan definisi yang ditulis oleh Gina Al Ilmi di atas, penulis menyimpulkan bahwa inti dari belajar adalah perubahan dari tidak mempunyai menjadi mempunyai: Dari tidak mempunyai pengetahuan menjadi mempunyai pengetahuan; Dari tidak mempunyai kepandaian menjadi mempunyai kepandaian; Dari tidak mempunyai kebiasaan menjadi mempunyai kebiasaan; Dari tidak mempunyai kemampuan menjadi mempunyai kemampuan; Dari tidak mempunyai keterampilan menjadi mempunyai keterampilan; Dari tidak mempunyai pengertian menjadi mempunyai pengertian; Dari tidak mempunyai pemahaman menjadi mempunyai pemahaman, Dst.

Belajar itu memiliki alat. Alatnya ada 3, yaitu: 1. Otak. Otak merupakan bagian yang paling penting dari tubuh manusia. Karena semua gerakan tubuh, fungsi organ-organ tubuh, dan semua pusat kehidupan manusia terletak di otak. 2. Hati. Hati merupakan salah satu anggota tubuh manusia yang apabila dia baik maka baik anggota tubuh yang lain dan apabila ia buruk maka buruk anggota tubuh yang lain (Hadits Rasulullah Saw.). 3. Pemikiran. Pemikiran adalah kegiatan manusia mencermati suatu pengetahuan yang telah ada untuk mendapatkan atau mengeluarkan pengetahuan yang baru atau yang lain. Pemikiran dengan otak menggunakan logika sementara pemikiran dengan hati menggunakan rasa. Keduanya ini sama pentingnya asal ditempatkan pada proporsinya.

Dalam belajar, manusia hanya perlu untuk menguasai apa yang sudah dimilikinya sejak kecil, yaitu: kemampuan sederhananya berupa mendengar,  melihat,  menulis,  berhitung, dan merenung. Merenung diri sering dilupakan banyak manusia.

Merenung adalah aktifitas berfikir mendalam (deep thinkings) yang sungguh berbeda dengan termenung. Merenung adalah secara diam-diam memikirkan sesuatu hal kejadian yang mendalam. Sedangkan termenung adalah gambaran tentang kondisi hanyutan sebuah pikiran, tentu saja ia kehilangan  efektivitasnya karena memang sedang out of control, di luar kendali. Termenung biasa dikatakan meratapi hidup.

Renungan berasal dari kata renung artinya memikirkan sesuatu. Jadi, renungan adalah pembicaraan diri kita sendiri atau pembicaraan dalam hati kita tentang suatu hal secara mendalam untuk kemudian berusaha mencari pokok persoalan dan berupaya memperoleh solusi/jalan keluarnya.

Untuk menjadi cerdas perlu 2 sebab berikut: Otak dan Kemauan. Pertama, Otak. Allah membekali setiap manusia yang lahir dengan otak. Otak memiliki empat bagian utama, yakni otak bagian belakang, tengah, depan, dan otak kecil. Masing-masing bagian otak ini memiliki fungsi dan tanggung tanggung yang tidak sama. Otak akan menerima rangsangan dengan pengalaman-pengalaman baru yang diterimanya melalui panca indra. Otak memiliki kemampuan memilih dan memilah tiap rangsangan yang masuk untuk diterima dengan baik atau diabaikan.

Kedua, Kemauan. Kemauan berkaitan dengan sikap internal/dari dalam manusia. Kemauan sangat menentukan. Ketersediaan fasilitas tidak menjamin seseorang bisa cerdas ketika dia tidak memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Dalam arti  bahwa dia sendiri yang tidak mau menjadi cerdas padahal buku dan guru ada di sisinya. Sebaliknya, tatkala kemauannya kuat, saat tidak ada fasilitas yang memadai pun maka ia berusaha dengan fasilitas seadanya menjadi cerdas. Dia berdiskusi dengan teman, belajar dari yang sudah lebih dahulu mampu, dsb.

Memaksimalkan kemampuan otak dan memperkuat kemauan untuk belajar mesti sejalan. Semakin besar tingkat kemauan manusia untuk belajar semakin tinggi derajat kecerdasan dia gapai. Sebaliknya, semakin kecil tingkat kemauan untuk belajar maka semakin rendah tingkat kecerdasan dia raih.

Untuk bisa memahami suatu bahan dengan cepat, caranya adalah dengan 7 ragam berikut, yakni:  1. Membuat kerangka bahan, 2. Membuat peta pikiran,  3. Mencari atau membuat contoh dari apa yang sedang dipelajari, 4. Mencoba mengajari pada diri sendiri, di depan kaca atau pada orang lain, 5. Mewawancarai diri sendiri tentang bahan yang sedang dipelajari, 6. Menulis kembali apa yang sedang dipelajari, dan 7. Mempelajari bahan yang lebih tinggi (lanjutan dari bahan yang dipelajari).

Agar belajar menjadikan cerdas hendaklah menemukan empat hal. Keempat halnya itu adalah: 1) Menemukan apa yang disukai, 2) Menemukan apa yang dinikmati saat melakukannya, 3) Menemukan apa yang memberikan hasil yang tinggi rata dalam hal itu, dan 4) Menemukan apa yang dikuasai dimana orang lain tidak bisa melakukannya.

Howard Gardner membagi kecerdasan dalam area manjemuk. Kecerdasan majemuk itu ada delapan. Kedelapanannya itu ialah cerdas angka, kata, gambar, musik, tubuh, orang, diri, dan alam. Dengan mengacu pada delapan kecerdasan ini, manusia mencermati ke dalam dirinya, mana yang lebih dia sukai, lebih dia nikmati, lebih dapat menghasilkan keterampilan yang dia akan dapat kuasai. Di bidang hitung-berhitung, kata dan kalimat, melukis dan memahat, bermusik, olah tubuh/raga, berhubungan dengan orang lain, instropeksi diri/merenung, ataukah dalam hal natural mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies.

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa IQ ternyata hanya menyumbang maksimal 30 % dalam kesuksesasan seseorang. Hal penting yang menentukan kesuksesan adalah keterampilan. –

Orang pintar tapi tidak terampil. Bayangkan! Bila manusia hanya bisa menghitung evaluasi di atas kertas, menuliskan kembali apa yang telah dihafalkan di dalam kertas ulangan, atau membuat laporan penelitian saja -walaupun dari semua itu manusia bisa mendapat nilai tinggi sewaktu bersekolah- tapi, kesuksesan hidup manusia di luar sekolah/kampus terletak di tangan masyarakat. Maksudnya: apakah lulusan sekolah/madrasah/Perguruan Tinggi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat? Misalnya, pada bidang mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Masyarakat (laki-laki) butuh khotib/orang yang menyampaikan khutbah waktu pelaksanaan shalat Jum’at. Apakah tamatan sekolah/Perguruan Tinggi tadi terampil untuk menyampaikan khutbah Jum’at? Ini tidak cukup dengan pintar dalam hal menjawab pertanyaan: Tuliskanlah rukun khutbah jum’at!

Bisa jadi selama manusia belajar dalam periode yang sangat lama itu ternyata tidak mempelajari apapun, tidak menguasai keterampilan apapun. Semua pengetahuan yang telah diperoleh ternyata tidak berguna untuk keseharian manusia atau manusia tidak tahu bagaimana menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari.

Untuk meningkatkan kualitas diri haruslah manusia bertanya pada diri sendiri sekarang ‘apa yang bisa didalami selama waktu ke depan, sesuatu yang menarik yang disuka, yang mudah dan tidak berat untuk dipelajari terus menerus sampai menjadi ahli? Jawaban dari itu tergantung pada apa yang manusia minati.

Istirahat seimbang perlu saat kita belajar hal baru otak membentuk koneksi sinaps (sambungan antar syaraf) baru. Dan proses pembentuk sinaps ini bisa menyerap hingga 20 % energy dari tubuh kita. Akibatnya, tubuh jadi cepat capek. Untuk mengembalikan energy tubuh kamu, sedotan energy sinaps-sinaps baru itu perlu dilemahkan. Caranya adalah dengan tidur.

Ingatlah. Belajar adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinu/berkelanjutan/terus-menerus di otak tidak bisa dicegah, tidak bisa dihentikan. Sekali manusia belajar, otak manusia akan menghubungkannya dengan materi lain yang tersimpan di otaknya.

Maju dengan belajar dengan cara: a. Selalu berusaha untuk belajar setiap waktu.                   b. Bisa belajar di mana saja dan kapan saja. c. Otaknya selalu aktif mengolah informasi yang dilihat/didengarnya. d. Selalu tertarik pada banyak hal unik dan baru. e. Terbuka pada berbagai pengalaman. f. Memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. g. Memiliki penjelasan untuk setiap hal yang dilakukan. h. Kreatif dan terampil. i. Produktif, banyak menghasilkan karya asli. j. Memiliki pemikiran dan wawasan yang luas. k. Luwes dalam berpikir, memiliki berbagai sudut pandang. l. Merasa tertantang menyelesaikan masalah yang kompleks.            m. Mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada lingkungan belajar yang baru. n. Memiliki pendapatnya sendiri dalam setiap hal. o. Menganggap kesulitan sebagai tantangan dan bukan masalah. p. Senantiasa cerdas dalam spiritual, yaitu mengaitkan tiap usaha dan kerja keras dengan rasa tawakkal dan berdo’a kepada Allah Swt.

 

DAFTAR REFERENSI

Ilmi, Gina Al, Cara Belajar Asyik, (Banten: PT. Panca Anugrah Sakti, 2008) Cet. ke-1

Lestari, Dwi, Nick Vujicic, Motivator Tanpa Lengan dan Kaki dalam https://www.idntimes.com/news/world/dwi-lestari-1/nick-vujicic-motivator-tanpa-lengan-dan-kaki-c1c2/full

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.10-23-15 WIB

Mubasir, Ahmad, Bagaimanakah Otak Bekerja dalam

https://www.kompasiana.com/am-19/550b592e8133117713b1e69a/bagaimanakah-otak-belajar

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.00-23.10 WIB

Prawiroatmodjo, Soekito, Berpikir Dengan Otak dan Berpikir dengan Hati Memang Beda dalam https://www.kompasiana.com/kito/59e550db7461b109c565a442/berpikir-dengan-otak-dan-berpikir-dengan-hati-memang-beda?page=all

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.50-23.57 WIB

Ulfa,  Juliana Belajar dari “Hati” dan dengan “Hati” dalam https://www.kompasiana.com/juliana.ulfa/54f78f78a33311fa7a8b45f0/belajar-dari-hati-dan-dengan-hati

Ditemukan 28 Januari 2020 pukul 23.15-23.30 WIB

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *