Kategori
Buah Pikir

Bucin

 

Tulisan Syaikha Naila Aisha (Siswi SMP I Raudhatul Jannah/kelas IX Tahfidz)

Kalau anak-anak millenial mengatakan Bucin itu adalah kependekan dari budak cinta. Seseorang dapat dikatakan sebagai bucin apabila dia terlalu mencintai lawan jenis secara berlebihan, sering memperhatikannya, dan melakukan segala cara agar si doi tertarik dengannya. Ada juga yang mengartikan sebagai “rela berkorban demi kebahagiaan kekasihnya.”

Tetapi menurut saya, bucin ini dapat memberikan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya yaitu termotivasi untuk rajin belajar dan meniru contoh teladan yang baik dari si doi. Misalnya mengagumi si doi “ih dia udah ganteng tinggi, pintar, berprestasi pula tuh.” Dari kekaguman tersebut, membuat seseorang menjadi termotivasi.

Dampak negatifnya adalah jika terlalu berlebihan soal mencintai, seseorang bakal lupa sama Maha pencipta yaitu Allah SWT. Saking bucin nya, lupa sama Allah kan. Padahal belum tentu lagi bakalan berjodoh atau tidak. Belum tentu si doi itu peduli dan juga menyukai kita, tetapi kita sudah terlanjur berlebihan mengaguminya. Kalau kata anak-anak milenial “mencintai itu lebih menyakitkan daripada dicintai.” Padahal?? Salah sendiri juga, kenapa terlalu menyukai seseorang secara berlebihan.

Dampak negatif selanjutnya adalah menimbulkan kemaksiatan. Misalnya nih, si Fulan dan Fulanah sama-sama saling menyukai. Nah, si Fulan akan melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Fulanah. Fulanah kalau sudah terlanjur menyukai si Fulan, maka dia akan mengiyakan segala hal yang ingin dilakukan si Fulan kepadanya, na’udzubillahi min dzalik.

Teman-teman, janganlah kita memanfaatkan masa-masa remaja ini untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Saling suka kepada lawan jenis itu biasa, karena itulah fitrahnya manusia. Tetapi ingat, di dalam Islam juga ada aturan nya. Jangan sampai karena bucin nya kita kepada si Doi membuat kita menjadi lupa kepada Allah SWT. Apalagi bagi penghafal Alquran. Ingat teman, menghafal, muroja’ah dan mempertahankan hafalan itu sulit. Jangan sampai, kita sudah susah-susah menghafal, akhirnya nanti tidak ada hafalan yang bertahan.

Jika menyukai seseorang, berdo’a dan curhat sama Allah. Tirulah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yaitu mencintai dalam diam. Baiknya sekarang kita fokus untuk memantaskan diri dengan senantiasa bertaqwa kepada Allah. Bukankah jodoh itu cerminan kita? Yakinlah kawan, bila kita baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *