Kategori
Buah Pikir

BELAJAR DARI WASIAT LUQMAN

 

Tulisan:

Marwit Irianto,S.HI,.MH (Guru SMP Islam Raudhatul Jannah)

Salah satu hamba Allah yang wasiatnya diabadikan dalam Al-Quran adalah Luqman Al-Hakim. Beliau adalah seseorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,”Dan sesungguhnya kami berikan hikmah kepada Luqman”(Luqman:12).

Diantara hikmah tersebut adalah pengetahuan agama dan kebenaran dalam ucapannya. Beliau menjadi pemuda sebelum terutusnya Nabi Daud,dan mengalami kerasulan Daud as.

Tentang sosok Luqman Al-Hakim, Mujahid berkata,”Luqman Al-Hakim adalah seorang budak Habsyi, tebal kedua bibirnya dan pecah-pecah kedua telapak kakinya. Pernah seorang laki-laki datang kepadanya pada suatu majelis ketika banyak orang berkumpul. Orang itu bercerita kepada mereka, lalu berkata kepada Luqman,”Bukankah engkau adalah seorang pengembala domba ditempat ini dan itu?” Luqman menjawab,”Ya.” Orang laki-laki tersebut berkata,”Apa yang membuatmu seperti ini sekarang?” Luqman menjawab,”Bicara yang benar dan diam dari sesuatu yang tidak berguna.”

Wasiat-wasiat Luqman kepada putranya

Tauhid yang benar

Wasiat Luqman kepada putranya tersurat dalam Al-quran,”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada putranya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya,”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”(Luqman:13).

Ketika menafsirkan ayat diatas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,” sebagai orang yang sangat mengasihi dan mencintai putranya, Luqman berwasiat kepada putranya supaya bertauhid yang benar, yaitu menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia memberikan kepada putranya sesuatu yang sangat utama untuk diketahui. Kemudian beliau memberikan peringatan kepada putranya dengan mengatakan,” sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”

Kemudian pada ayat berikutnya Allah SWT memerintahkan agar manusia berbuat baik terhadap kedua orang tuanya, sebagaimana dalam firman-Nya,”Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”(Al-Isra:23)

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang selalu menyebut secara bersama antara perintah menyembah Allah dan berbuat baik terhadap kedua orang tua. Hal ini menunjukkan betapa penting dan luhur nilai berbakti kepada kedua orang tua. Seolah-olah ibadah kepada Allah menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan sikap berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Selalu sadar akan pengawasan Allah

Sebagai hamba yang selalu mengigat Allah SWT, Luqman sering sekali berwasiat kepada putranya agar menyadari keberadaan Allah.

(Luqman berkata):”Hai anakku, sesungguhnya jika ada(perbuatan)seberat biji sawi, dan berada didalam batu,di langit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkanya(membalasnya). Sesungguhnya Allah maha halus lagi Maha Mengetahui.”(Luqman:16)

Allah berfirman,”sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”maksudnya, Allah adalah zat yang Maha teliti, dan pengetahuan-Nya mampu menangkap segala sesuatu. Karena itu tidak ada sesuatupun yang samar bagi-nya, meskipun ia sangat Lembut dan Halus. Semut yang berjalan di atas sebongkah batu hitam di tengah kegelapan malam, sangat jelas di mata Allah SWT.

Dengan menyadari bahwa Allah adalah zat yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui segala sesuatu, manusia akan menyadari bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT. Kesadaran seperti ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak sehingga ia memiliki etika otonom, yaitu etika yang berangkat dari kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT.

Menegakkan shalat dan amar ma’ruf nahi mungkar

Sebagai ayah pendidik, Luqman selalu mengarahkan dan menasehati putranya tentang ibadah shalat dan kebaikan, sebagaimana firman-Nya,”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik, dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar…”(Luqman:17)

Ibnu Katsir menjelaskan, “ yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah melaksanakan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya serta menjaga waktu-waktunya.” Menegakkan shalat juga dapat berarti mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di balik simbol gerakan dan bacaan dalam shalat, seperti keiklasan, kejujuran, kedisiplinan, dan tawadhu’. Inilah yang perlu ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, shalat akan benar-benar menjadi sistem kontrol yang efektif dalam menegakkan etika otonom, dan mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Sabar dalam menghadapi ujian

Sebagai penyeru kebenaran, Luqman selalu mengigatkan pentingnya kesabaran dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT, “…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman:17)

Wasiat Luqman untuk selalu menetapi kesabaran adalah sesuatu yang penting bagi siapa saja. Sebab semua orang akan mengalami ujian dan cobaan dalam hidupnya. Terlebih para juru dakwah, biasanya mengalami ujian yang lebih berat dari pada orang kebanyakan. Karena itu wajar jika Luqman memerintahkan anaknya untuk bersabar. Sebab dia adalah penerus Luqman yang kelak akan menyerukan kebenaran.

Kesabaran merupakan kebutuhan (kewajiban) manusia, sebagaimana firman-Nya,”Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang di wajibkan ( oleh Allah ). Para juru dakwah harus siap bersabar atas semua tantangan yang dihadapinya. Berbagai cacian, hinaan, kekerasan, hingga pengucilan dari khalayak, harus dihadapi dengan lapang dada. Oleh sebab itu, kesabarn merupakan kewajiban bagi penyeru kalimat Allah, sebagaimana redaksi ayat yang mengunakan kata perintah: bersabarlah!

Demikianlah salah satu penafsiran ayat di atas. Ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan perintah bersabar adalah kesabaran atas kesulitan-kesulitan dunia, seperti sakit dan lain sebagainya. Dan juga kesabaran untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat kepada Allah SWT setelah menyesalinya.

Menurut Al-Qurthubi, pengalan ayat,”sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”,mencangkup pengertian kesabaran dalam melaksanakan shalat, menyuruh kebaikan, melarang perbuatan mungkar, dan kesabaran atas siksaan dan ujian. Sebab semua hal itu merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah SWT.

Larangan bersikap sombong

Sebagai pendidik yang agung, Luqman selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. Karena itu beliau melarang anaknya bersikap sombong.” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”(Luqman:18)

Tentang memalingkan wajah, Al-Qurthubi- dengan mengutip penakwilan Ibnu Abbas ra-berkata,” janganlah kamu memalingkan pipimu dari orang lain karena sombong dan ujub, atau engkau hendak menghinanya.” Maksudnya, engkau semestinya bersikap ramah dan menyenangkan orang lain. Demikian pula seharusnya sikap orang tua kepada anaknya, ramah dan suka menyenangkan hatinya. Sikap ramah orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak dan biasanya akan melahirkan sikap rendah hati dan tidak sombong.

Berjalan dengan keangkuhan adalah larangan agama. Setiap orang tua tidak boleh melakukannya, apalagi di hadapan anak-anak. Sebab, anak-anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

 

Sikap sederhana dan bersahaja

Luqman adalah figur yang bijak. Karena kebijakannya, dia diberi gelar Al-Hakim ( yang bijak). Salah satu kebijakan Luqman yang diajarkan kepada anaknya adalah sikap sederhana dan berbicara sopan, sebagaimana yang diajarkan kepada anaknya adalah sikap sederhana dan berbicara sopan, sebagaimana dalam firman-nya,” Dan sederhanalah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk- buruk suara adalah suara keledai.”(Luqman:19).

Al-Qurthubi mengatakan,’ketika Allah melarang seseorang memiliki sifat-sifat tercela, pada saat yang sama Dia memerintahkan agar mengamalkan sikap-sikap yang mulia. Allah SWT berfirman,” mengamalkan sikap-sikap yang mulia. Allah SWT berfirman,” dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan.”

Yang dimaksud sederhana di sini adalah tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Jadi sombong dan angkuh dilarang, sedangkan berjalan santun dan berkata sopan diperintahkan oleh agama.

Selain berjalan dengan santun, sikap utama ayang diajarkan Luqman kepada anaknya adalah bertutur kata yang sopan dan lemah lembut. Menurut Al-Qurthubi, yang dimaksud dengan melunakkan suara adalah memelankan suara sesuai dengan kebutuhan. Sebab, mengeraskan suara di atas kebutuhan adalah sikap takalluf (mengada-ada) yang dapat mengganggu orang lain.

Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”(Luqman:19). Suara keledai adalah contoh suara binatang yang paling buruk sehingga tidak perlu ditiru.

Demikianlah beberapa wasiat Luqman kepada putranya. Sebagai orang tua, semoga kita bisa belajar dari wasiat Luqman untuk mendidik anak-anak kita.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *