Kategori
Buah Pikir

Ada

Tulisan Irmawati/Guru TK Islam Raudhatul Jannah

ADA….

ASUH…                   

Mengasuh…

Memberikan kasih tanpa mengeluh

Menyapa sayang tanpa acuh

Menjauhi rasa  gaduh….

Menentrami hati yang berkeluh

Hingga jiwa terasa berteduh

DIDIK…

Mengungkapkan kata tanpa menghardik

Merangkul mata tanpa sekat atau bilik

Siapkan naluri yang menggeliltik

Atas pujian, sanjungan, cacian yang mencabik

AJAR…

Melangkah kan kaki tanpa mengejar

Sediakan bahu untuk bersandar

Sampaikan cerita dengan sedikit kelakar

Agar sang anak betah duduk berbanjar

Maafkan ibu nak….

Belum mampu memberikan kasih dan sayang yang sempurna

Karena Ar Rahman dan Ar Rahim lah yang mempunyai

Namun ibu kan berusaha memohon pada-Nya

Agar hati ini dilimpahkan rasa kasih dan sayang untuk mu

Cerita hati dalam kegiatan setiap hari…

Kategori
Buah Pikir

GENERASI PEMPES

Tulisan Devis Ade Viosa/Guru SMA IBS Raudhatul Jannah

            Menurut KBBI Pamper adalah alas bayi yang terbuat dari kertas berdaya serap baik dan kedap air dengan lapisan luar dari plastik tipis atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama Popok bayi. Kalau kita membicarakan tentang popok bayi, maka perlu pula kita membicarakan tentang sejarah popok itu sendiri. Sejarah popok ini hampir setua peradaban umat manusia. Tentu saja karena pesoalan ngompol yang menjadi sebab penciptaan popok. Pangkal persoalannya tetap sama dari masa ke masa; Pencegahan air seni dan tinja dari anak yang belum terlatih menggunakan kamar kecil, agar tidak tercecer ke sembarangan tempat.

            Ibu-ibu di zaman purba menggunakan kulit binatang, dedaunan dan bahan-bahan lainnya sebagai popok untuk anak-anak mereka. Contohnya; ibu-ibu suku Innuit, bagian dari suku kecil dari sekian banyak suku Eskimo, mereka mengumpulkan lumut selama musim panas yang singkat, lalu meletakannya di dalam kulit anjing laut yang mereka gunakan untuk membungkus bayi mereka. Begitu juga empat ribu tahun yang lalu di Mesir mereka lakukan hal sama untuk penanganan persoalan bayi.

            Pada abad ke-19, popok modern mulai terbentuk. Pemakaian kancing untuk mengencangkan popok dibadan si anak mulai dipakaikan. Pada tahun 1887 popok kain mulai diproduksi massal oleh Maria Allen di Amerika Serikat. Di Inggris popok terbuat dari kain handuk, dan seringkali disertai lapisan dalam yang terbuat dari kain kasa yang lembut.

            Pada awal abad ke-20 popok kain dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Bahkan, ditengah-tengah perang dunia ke-II sedang berkecamuk, lahirlah sebuah bisnis baru yaitu usaha pencucian popok kain di berbagai penjuru negeri. Karena banyak dari kalangan wanita yang terjun ke dalam dunia Industri sebagai pekerja-pekerja di pabrik-pabrik pembuatan alat perang. Setelah perang dunia II usai, pernyataan perang terhadap pencucian popok kain semakin sengit dari kalangan ibu-ibu. Hal ini memicu lahirnya popok sekali pakai. Kelahiran popok sekali pakai ini mengalami proses evolusi yang cukup panjang. Ia lahir berkat penemuan beberapa orang di belahan dunia yang berbeda.

            Memasuki dekade 50-an, setelah melewati proses riset yang cukup lama, industri popok sekali pakai ini berkembang pesat. Salah satu perusahaan raksasa yang mencapai puncak ke-emasan dalam industri pembuatan popok sekali pakai ini adalah P&G (Procter dan Gamble)           dengan nama produk popoknya adalah Pampers. Produk ini menyebar begitu cepat bagaikan virus ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia pampers sangat diminati. Karena, Instan, praktis dan efesien. Kemudian Pampers yang merupakan merek dari popok bayi sekali pakai melekat dihati masyarakat Indonesia. Sehingga penyebutan popok bayi sering disebut Pempes. Walaupun ada merek lain seperti Kimberly Clark yang mengeluarkan produk Huggies saingan dari Pampers.

            Ditinjau dari perspektif kebudayaan. Pempes bukanlah kemajuan pembangunan karakter manusia dalam peradaban. Pempes telah menghantam dan menggeser internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter terhadap manusia. Penggunaan Pempes membuat 2 hipotesis baru. Apakah  Pempes adalah kemajuan atau kemalasan orang tua.

 Coba kita renungkan dan hayati! Ibu-ibu buang air kecil. Kemudian, 50% air seninya membasahi celana. Apakah celana yang terkena najis tersebut masih mau ibu-ibu sarungkan di anggota tubuhnya? Kemudian kepada bapak-bapak yang lagi buang air besar, lalu air untuk pencuci sisa kotoran yang menempel di anus tidak ada di toiliet. Apakah masih ada kepercayaan diri di dalam diri bapak-bapak untuk memasangkan celananya? Sudah dipastikan jawabannya tidak. Lalu kenapa darah daging kita dibiarkan 2-4 jam menyimpan kotoran tersebut dalam kesehariannya bermain. Bahkan, dibawa tidur dari malam sampai pagi. Hal ini membuktikan bahwa Leadership dalam rumah tangga tidak jalan.

Selain itu, ditinjau dari segi kesehatan, tidak semua bayi yang mempunyai daya tahan tubuh yang sama. Efek membiarkan bayi menyimpan kotoran terlalu lama akan membuat ruam pada kulit bayi.

Ditinjau dari Pragmatisme produsen dan konsumen. Dengan banyak diminatinya Popok sekali pakai ini telah mendorong semangat mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan dampak dari produk itu sendiri. Ketergantungan pada Pempes telah merusak lingkungan dan ekosistem. Banyak masyarakat membuang sampah Pempes sembarangan. Tempat pembuangan sampah pempes yang paling digemari adalah sungai.

Menurut catatan riset Ecoton. Sebuah LSM di Surabaya yang dikenal dengan sebutan detektif sungai karena peduli akan kelestarian kebersihan sungai. Setiap tahunnya 6 miliar piece popok diproduksi di Indonesia. Besarnya angka produksi itu, perlu diikuti dengan pengetahuan tentang bahaya buang sampah popok sembarangan. Peneliti senior Ecoton Riska Darmawanti  mengatakan, terdapat senyawa dioxin dan phtalat dalam popok bayi. Jika senyawa ini melebur dalam air, maka akan terjadi pencemaran.

Seperti kita ketahui popok terbuat dari plastik. Semakin lama berdasarkan waktu dia akan semakin kecil. Sebab, bahan-bahan plastik pada popok tidak akan terurai, selain menjadi mikroplastik. Dia akan menjadi remah-remah, berubah menjadi lebih kecil lagi makro dan nano. Bayangkan ini terjadi di sungai yang kemudian masuk ke dalam organisme air yang bisa mengakibatkan ikan bencong. Hal ini menunjukan sungai telah kotor dan sangat beracun bisa membuat perubahan gender pada ikan.

Melihat berbagai kasus yang terjadi diatas, semua itu terjadi tidak bisa kita lepaskan dari peranan pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses pembentukan dan penentuan diri secara etis yang sesuai dengan hati nurani. Membiarkan anak bergelimang dengan kotoran berjam-jam, bukankah ini bagian dari pendidikan? Asal kita ketahui, telah terjadi transformasi nilai-nilai yang membentuk kepribadian anak. Membiarkan anak bermain membawa kotoran yang tersimpan didalam Pempes, sama saja orang tua mengajarkan menyimpan sifat yang buruk sejak kecil kepada anak-anaknya. Diteropong dari perspektif Agama. Bukankah kebersihan sebagian dari Iman? Perlu kita sadari bahwasanya membiasakan anak membawa kotoran dalam celana ketika bermain, kita telah menanamkan kedalam memori otaknya di alam bawah sadar bahwasanya menyimpan sifat-sifat tercela adalah hal yang biasa saja. Hal ini berdampak kepada kepribadian anak ketika mereka dewasa.

Kemudian pemakaian Pempes dibiasakan setiap hari beresiko menggangu perkembangan anak. Ia akan lebih suka menggunakan Pempes. Disaat anak-anak lain susianya sudah tidak ngompol, kemungkinan ia masih suka ngompol. Ini bagian dari pendidikan. Pempes telah mengajarkan anak-anak tidak mandiri dan selalu bergantung kepada orang tua ketika dewasa.

Pempes kemajuan zaman atau kemalasan orang tua? Sama seperti yang kita ketahui manusia akan selalu punya argumentasi dalam berkomentar yang dijadikan alasan ketika kebijakannya disanggah. Ketika statements dilontarkan bahwa pempes adalah kemalasan orang tua. Beragam bantahan yang datang dari ibu-ibu pejuang pempes. Memang membuat orang mengerti dengan apa yang kita sampaikan agar mereka memahami adalah pekerjaan terumit didunia ini. Untuk masalah pendidikan tidak boleh ada kata berhenti untuk membetulkan yang salah. Sebagai manusia yang beradab tentu kita mencari solusi untuk menghindari perdebatan.

Keberagaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Diantara keberagaman yang ada di Indonesia sebenarnya pendidikan yang berlian itu telah dikonstruksi oleh nenek moyang kita dahulunya. Sayangnya kita lebih suka melihat model pendidikan barat yang tampak seakan jauh lebih baik dari kita.

Padahal, masing-masing dari daerah yang ada di Indonesia mempunyai cara penananman nilai untuk pembentukan karakter bagi generasi. Suku minang misalnya. Dalam petuah adatnya dikatakan “anak managih dari dalam baduang sampai pandai bajalan karano 4 hal. Partamo, kaki bapilin. Kaduo, kain basah. Katigo, paruik litak. Kaampek, anak minta mandi.” Artinya bayi menangis dari dalam bedung sampai dia pandai berjalan itu karena 4 hal. Pertama, kakinya berpilin dalam bedungan. Kedua, kainnya basah kena pipis atau tinja. Ketiga, perutnya lapar. Keempat, anaknya gerah minta mandi.

Dapat kita lihat zaman sekarang anak menangis, orang tua tua kasih ayunan supaya anaknya tidak menangis. Dalam bahasa minangnya “alah masak kanai kicuah si anak” artinya sudah matang dengan tipuan sianak tersebut. Anak menangis minta pempesnya diganti, tapi buaian juga yang dikasih. Wajar kita temukan zaman sekarang banyak anak yang suka ngeles tidak jelas. Seharusnya orang tua bersikap jujur dan cekatan memeriksa bayinya dalam bedungan. Secara implisit perlakuan atau pelayanan seperti ini adalah bagian dari pendidikan pembentukan karakter anak.

Pemakaian pempes adalah bentuk kemalasan orang tua atau kemajuan zaman. Dialektika  persoalan ini tidak perlu kita perdebatkan lagi. Sudah dapat kita pecahkan dari petuah-petuah yang sudah dikonstruksi oleh nenek moyang kita dahulunya. Sebagai orang tua kita harus bertanggung jawab penuh terhadap anak soal pendidikan. Perlu kita sadari bahwa pendidikan anak adalah investasi dunia akhirat dalam sebuah keluarga.

Pembicaraan masalah pendidikan tidak pernah lepas dalam pembangunan peradaban. Pendidikan adalah sebuah kendaraan yang mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik. Bahkan pejabat yang silih berganti tak pernah berhenti dalam pencaharian kurikulum terbaik buat pendidikan secara nasional buat negri ini.Ganti pemimpin, ganti sistem, ganti program. Program yang silih berganti tampak seperti proyek dari pendidikan dalam kedilemaan ribuan guru di Indonesia.

Membaca dan memaknai kata-kata bijak seorang maestro Moeslim Amerika Dr. Ibrahim Elfiky didalam bukunya yang berjudul Terapi Berpikir Positif. “Apa yang terjadi pada dirimu hari ini adalah dampak dari fikiranmu kemaren. So, keadaan kehidupanmu masa yang akan datang sudah dipastikan dampak dari fikiranmu hari ini”.  Bagaimana dengan pendidikan Indonesia saat ini? Sudah saatnya kita kuatkan kekuatan fikiran kita bersama hari ini dengan menetapkan sebuah kurikulum berbasis kearifan dan nilai-nilai lokal yang telah ada, dalam ketetapan MPRS dalam jangka waktu minimal 20 tahun. Kalau seandainya terbukti tidak mendapatkan hasil, baru diganti dengan kurikulum yang dianggap baik di zamannya. Karena, hasil dari produk pendidikan ini tidak bisa kita rasakan dalam jangka waktu 5- 10 tahun. Implikasi pendidikan minimal dapat kita rasakan dalam waktu 20 tahun.

Kategori
berita Press Release Prestasi

SMP Raudhatul Jannah Juara Umum OSN Payakumbuh

            SMP Islam Raudhatul Jannah (SMP I RJ) menjadi juara umum Olimpiade Siswa Nasional (OSN) tingkat kota Payakumbuh. Pagelaran yang diinisiasi oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) memperlombakan 3 bidang studi, yaitu Matematika, IPA dan IPS. dari 3 bidang studi yang diperlombakan siswa SMP I RJ berhasil menjadi jawara dimasing-masing cabang. Rafif Farras (Matematika), Siti Nurhayati (IPA), Ahmad Zaki (IPS) siswa SMP I RJ yang menjadi jawara dan berhak mengikuti Olimpiade Siswa Nasional (OSN) tingkat provinsi pada bulan April Mendatang di kota Padang.

            Dominasi SMP I RJ terus berlanjut, dari 9 trophy yang diperebutkan SMP I RJ berhasil merebut 7 trophy. Jon Afrizal selaku Ketua MKPS (Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah) kota Payakumbuh mengatakan pada sambutannya di SMP I RJ, saya melihat siswa SMP I RJ ini berlebih prestasinya, tak mau bagi-bagi semua prestasi direbut, saya sangat bangga melihat siswa SMP I RJ, semoga menjadi contoh untuk sekolah lainnya.

            Kepala sekolah SMP I RJ Ersis Warman menyampaikan, ini adalah salah satu pencapaian yang luar biasa bagi SMP I RJ pada tahun 2019. Semoga dapat menjadi bahan penyemangat untuk seluruh siswa SMP I RJ untuk dapat belajar lebih giat serta tidak pantang menyerah.

            Ersis menambahkan semua siswa SMP I RJ yang juara adalah bagian dari kerja keras kami seluruh civitas akademika SMP I RJ. Kami memang mempunyai pelatihan khusus untuk mengembangkan talenta anak, kalau seperti OSN ini kami ada pelatihan satu kali dalam satu pekan. Alhamdullillah berkat dari pembelajaran dan pelatihan yang continue anak-anak dapat mengeluarkan potensi yang ada dalam dirinya.

            Siti Nurhayati selaku salah satu siswa yang berhasil menjadi jawara menambahkan ini baru kali pertama saya menjadi juara dan langsung diberikan kesempatan untuk bersaing di tingkat provinsi. Awalnya sih saya tidak menyangka dapat menjadi juara 1, padahal saya baru kelas 1 lawan rata-rata telah kelas 2, tapi berkat kerja keras dan doa orangtua saya dapat menjadi jawara.

            Perlu diketahui SMP I RJ, adalah salah satu sekolah yang mempunyai kurikulum tersendiri terkait pengembangan bakat dan talenta anak. SMP I RJ juga mempunyai pelatihan yang tujuannya untuk membina menjadi generasi yang Islami.